Seharusnya Hari Ini Saya Sudah Berada di Puncak Lawu

..dan seharusnya (lagi) minggu lalu saya telah berhasil menyelesaikan Half Marathon kedua saya.

Tangerang, 22 maret 2020

Sudah hampir satu bulan terakhir sejak pandemi ini akhirnya menggemparkan Indonesia. Awalnya ada yang bersikap tidak tau menau, biasa saja, bahkan sampai melecehkan wabah penyakit ini dengan segudang lelucuan. Haha! Akhirnya menyerah juga. Ya saya salah satunya.
Jujur saja sampai saat ini saya merasa diri kuat, saya berolahraga rutin, mengonsumsi makanan sehat , tidak merokok, dan bukan pecandu alkohol. Saya berpikir buat apa saya takut. Namun yang terjadi adalah wabah ini telah merusak semua rencana rapih yang telah dipersiapkan. Semuanya telah disusun apik. Saya sudah membeli tiket, lengkap dengan logistik dan playlist Spotify untuk pendakian saya menuju gunung Lawu dan Bukit Mongkrang yang terletak dekat dengan Lawu.  Ah.. betapa indahnya menikmati suguhan keindahan Lawu dan sisi lainnya dari Bukit Mongkrang!
Saya pun sudah mempersiapkan fisik dengan latihan keras setiap hari untuk Half Marathon kedua saya dan telah  membayangkan betapa bahagianya menyentuh garis finish di kilomieter 21. Tapi, seketika semua event lari yang seharusnya dilaksanakan dalam waktu dekat ini, dengan sangat berat hati harus diundur bahkan ada yang dibatalkan. Ya! Semua batal tanpa ampun!

Kesal? Pasti!
Saya termasuk bukan orang yang bisa tahan berlama-lama di rumah. Saya selalu berpikir ada banyak hal yang saya bisa lakukan di luar sana. Bertemu orang-orang baru, melatih fisik saya dengan olahraga, pergi ke beberapa event yang dapat menambah referensi visual saya, bahkan sampai beribadah pun semuanya .. woosh! berhenti seketika. oh mall jangan lupa, tutup semua. Wow! Great job Corona!

Mau sampai kapan sih ‘gini terus?
Pertanyaan yang hampir setiap saat saya ucap walaupun sudah tahu jawabannya. Ya, tentu saja tidak ada yang tahu kapan semua ini akan berakhir. Ini bukan masalah perorangan, bahkan ini adalah wabah dunia (terlepas dari segala konspirasi yang melatarbelakangi wabah ini hmm) Karena sepertinya Corona memang punya banyak akal. Mungkin saja virus tidak mempan di tubuh ini, tapi saya bisa menjadi pembawa virus untuk orang lain dan inilah yang jauh lebih saya takutkan. Penyebaran yang cepat dalam satu waktu membuat segala fasilitas kesehatan bisa saja tak mampu menampung lagi jumlah pasien.

Tapi ya saya bisa apa? Kita bisa apa?
Semua sektor nyaris terkena dampak lewat wabah ini. Jika kesehatan terganggu, ekonomi akan berdampak, orang akan mulai bingung bagaimana harus bertahan untuk hidup dan tak menutup kemungkinan isu sosial akan juga mulai bermunculan.
Selagi akal sehat masih berjalan selagi hati masih bisa didengar, cobalah sadar setiap saat bahwa ini adalah masalah bersama. Ikutlah berkontribusi dalam setiap solusi, walaupun kecil. Mencoba untuk tidak menjadi keras kepala. Mengikuti aturan dan segala anjuran yang diberikan. Tak lupa untuk terus menjaga gaya hidup sehat karena jelas saya tidak sudi jika penghasilan saya hanya untuk pengobatan fisik semata. We want to thrive not just survive!

Jelas kita tidak dapat mengontrol apa yang terjadi di luar sana. Semuanya datang dan pergi, terjadi dengan sangat tiba-tiba, berubah dengan cepatnya. Ingat ini, satu hal yang pasti adalah ketidakpastian, dan yang tak pernah berubah hanyalah perubahan. Percayalah tidak ada yang kekal di bawah kolong langit ini, semuanya sementara. Tugas kita hanya perlu menyesuaikan segala ritmenya, dan mencoba lebih peka dengan segala perubahan untuk melakukan yang terbaik yang kita bisa berikan.

#tetapsehat
#dirumahaja
#bosendikit

 

Continue Reading

Bukan Topik Cinta

Ih aku tak bisa buat kata cinta-cintaan. Memang mau kasih ke siapa?

ya siapa saja yang kau cinta, berimajinasi sedikit

em, kau laksana embun yang datang di pagi hari

ah! embun pagi, cahaya mentari, fajar menyingsing, terlalu umum

baik

seperti dedaunan yang berguguran

hei, siapa yang menyuruhmu membuat puisi?

bukankah kata-kata cinta itu ya berarti seperti membuat puisi?

hm ya bisa jadi sih
tak melulu puisi, anggap saja kau sedang menulis surat

ah!
diamlah, dengar sebentar

baiklah

Atau pernahkah kau perhatikan saat saat gulungan awan indah terhampar di langit luas,
cantik bukan?
hiasan indah saat kau mengadahkan kepalamu ke langit
seringkali pula mereka membentuk apa yang pikiranmu inginkan
kemudian bergulung seakan tak peduli angin membawanya kemana
angin yang tak sopan itu membawanya melewati hamparan gurun yang luas
menari nari di sana dengan sangat menenangkan
namun jangan terlewat, angin juga membawanya melewati celah antara bukit yang sempit
memisah-misahkan mereka dengan seenaknya
sementang hukum alam telah mengatur keberadaannya
ia perlakukan sang awan dengan sangat tidak bijaksana
sementang awan yang terlalu rela
ia yang tak berperasaan
ia yang..

ah, itu bukan puisi cinta!
dan kau terlalu bepihak, tidak adil bagi angin

tidak adil bagaimana jelas anginlah sang tersangka, patut disalahkan

hah? kau tak sadar bagaimana segulungan awan jika mereka terus bersama
terikat kuat, mereka akan membuat gulungan hitam pekat
dengan cahaya sana sini
belum lagi suara yang mereka ciptakan
sontak semua pemilik mata pun tak berani memandang,
bersembunyi dan mengabaikan
jika bukan karena angin yang memisahkan mereka,
hal itu akan terus terjadi, menakutkan!

Kau harus kritis kawan!
siapa membuat mereka bersama terikat kuat?
siapa yang membawa mereka bergerak kalau bukan angin
bukankah lebih baik angin biarkan awan dengan ikhlasnya pergi kemana ia mau
tak perlu dia atur kemana arah yang ia tuju
biarkan awan dengan otoritasnya mengatur dengan saksama
betul tidak?

Kau kepahitan dengan angin!
Cari topik lain!

Continue Reading

Indahnya Jazz, Merdunya Bromo

Sementara alunan itu diperdengarkan
Aku terus mempertanyakan bagaimana mungkin ia mampu masuk ke dalam setiap saraf hingga menenangkan setiap bagiannya?
Sementara alunan itu diperdengarkan
Aku terus mempertanyakan bagaimana mungkin ia mampu masuk ke dalam sukma hingga menyebarkan energi positif ke seluruh raga?

Aku bahkan tak sampai hati untuk mengupas setiap lapisannya
Terlalu sayang untuk ditelisik
Aku tak mau pusing, hari ini aku mau dipuaskan
Hingga kuputuskan, kubiarkan saja mereka tetap menyatu
Mempercayakan kepada ahlinya memanjakan telinga

Jazz Gunung 2017 meninggalkan kesan bagi saya. Keinginan untuk kembali jelas tentu saja ada. Namun dengan berbagai pertimbangan saya pikir tahun ini saya tidak perlu lagi. Ya, hitung-hitung saya sudah pernah sekali ke Jazz Gunung. Namun, siang itu saat perjalanan menuju ke Cikampek (perjalanan menuju ke percetakan) Lusy (teman gereja saya (@lusyanayulia jika anda ingin mengetahui lebih lanjut)) mengirimkan pesan melalui Instagram, mengajak saya ke Jazz Gunung. Tentu saat itu saya menolak. Namun begitu Lusy berkata bahwa ia mendapat tiket VIP gratis berikut dengan akomodasinya, saya langsung membuka Traveloka untuk mencari tiket pesawat. Ya walaupun terdapat drama setelahnya sih, namun pada intinya saya mengiyakan tawaran Lusy.

Bagaimana bisa mendapat tiket gratis?

Jadi seperti ini, temannya Lusy bernama Ka Ingrid, ia mengikuti Jazz Gunung Bromo 2017, lalu menang dalam kontes foto yang diadakan oleh pihak Jazz Gunung. Hadiah berupa tiket VIP tiga hari + penginapan di tenda selama tiga hari pula untuk dua orang. Bayangkan, menikmati Bromo di tenda sambil disenandungkan syahdunya Jazz, siapa yang tidak mau? Namun, sangat disayangkan ka Ingrid sudah membeli tiket ke Bangkok sehingga tiket untuk dua orang tersebut diberikan kepada Lusy. Syukur Puji Tuhan, Lusy mengajak saya! Ah! ..aku diberkati sepanjang hidupku diberkati ! Terima kasih juga kepada Ingrid, Tuhan menyertai 🙂

27 July 2018

Hari itu saya berhasil menghasut Lusy untuk pergi ke Bandara Soeta dari Karawaci (kos saya) dengan menggunakan motor lalu parkir inap di sana selama 3 hari . Dengan iming-iming harga yang berbeda jauh jika kami menggunakan transportasi online. Jelas jauh, parkir inap motor di bandara hanya lima ribu per 1×24 jam, sedangkan jika kami menggunakan transportasi online bisa lebih dari dua ratus ribu untuk pulang-pergi.
Sekitar pukul 6 pagi, terbanglah kami menuju Surabaya. Setengah 8 kami tiba di Bandara Juanda Surabaya dan telah ditunggu oleh mas Rino yang akan menjadi LO kami selama 3 hari ke depan. Ternyata kami tidak hanya berdua, kami bersama dengan rombongan dari Bandung yang terdiri dari 2 bapak-bapak dan 5 orang ibu-ibu. Terkejutnya saya adalah mereka sudah langganan ke Jazz Gunung, dan tahun ini merupakan kali ketiga mereka. Wow, saya kagum sekali, meskipun tidak lagi berusia 20 atau 30-an tapi mereka pede saja jauh-jauh dari Bandung untuk menonton konser musik.
Singkat cerita sebelum sampai di Bromo, kami serombongan mampir di Rawon Ngulig Probolinggo. Sampai di sana, saya sangat terkejut sekali bertemu dengan sahabat SMA. Vivi namanya, kini ia seorang pramugari Garuda. Sudah lama sekali tidak bertemu, dan sekali bertemu, kami bertemu di Probolinggo. Sampai jumpa lagi, Vivi !

Sekitar pukul 3 sore sampailah kami di Jiwa Jawa Resort.

Ah udara ini yang saya rindukan
Bromo, kita bertemu kembali

Senang sekali rasanya, tidak seperti jika saya naik gunung, yang harus repot dengan urusan tenda (ya walaupun bukan saya juga yang biasanya membangun tenda) namun kini tenda telah siap, bantal selimut telah tesusun rapih lalu hanya beberapa langkah dari tenda kami, terdapat kamar mandi yang bersih berikut dengan air panasnya.
Sekitar pukul 5 sore, acara Jazz Gunung pun dimulai, venue Jazz Gunung pun sangat dekat dari tenda kami, kami hanya perlu menaiki tangga, dan sampailah kami di amfiteater Jiwa Jawa Resort.

Saya miss di dua penampilan pertama di hari pertama. Kemudian saya disuguhkan dengan penampilan dari Jungle by Night, band dari Amsterdam Belanda. Jelas mereka membuat jamaah aljazziyah (begitu sebutan untuk penonton Jazz Gunung) terpana. Hmm, sulit untuk dijelaskan, genre music mereka lebih campuran dari jazz, funk, afrobeat. Sangat menghibur, menyajikan nuansa yang berbeda di Jazz Gunung tahun ini. Laki-laki berjumlah delapan orang dengan skill yang luar biasa dan terlihat masih muda, jelas ini menjadi poin plus bagi saya (hihi). Tohpati Bertiga benar-benar bertiga (guitar, bass, dan drum), kali ini mereka mambawakan lagu-lagu pop dengan sentuhan jazzy (tapi ada yang cenderung ke rock juga. Ah, saya memang bukan pakarnya bermusik, tidak begitu paham) Lanjut ke penampilan Barry Likumahuwa. Lagu-lagu Barry dari band sebelumnya yaitu BLP sudah sering saya dengar, jadi beberapa saya paham pattern yang ia bawakan malam itu. Namun ya jelas tak perlu diragukan lagi penampilannya, menurut saya ini menjadi puncak di hari pertama Jazz Gunung 2018, sangat berkelas. Di penghujung acara kami dibawa ke lagu-lagu romantis 80-an dari Andre Hehanusa. Tak begitu banyak yang saya tahu, namun beliau berhasil membawa penonton bernostalgia (khususnya 50 tahun ke atas)

Malam itu Bromo semakin dingin
Berusaha untuk tidur pun tak cukup
Saya harus menjaga tubuh ini tetap hangat dengan beberapa lapis pakaian

28 July 2018

Rencana tinggalah rencana. Menikmati sunrise Bromo saat itu, ah lupakanlah. Mungkin karena tenda yang terlalu nyaman, kami baru terjaga di pukul setengah 6 pagi. Karena kami hanya berdua, kami putuskan untuk eksplorasi Bromo dengan ojek. Ya, beruntunglah anda yang pergi serombongan besar, karena anda dapat naik Jeep dengan aman dan nyaman. Tapi bagi kami yang hanya berdua, sudahlah naik ojek saja. (Saya baru sadar saya belum pernah naik Jeep di Bromo, tahun lalu karena hanya bertiga dengan Rina dan Anggi, kami naik ojek. Tahun ini hanya berdua, ya mau tak mau.) Namun menggunakan ojek di Bromo, sangat saya rekomendasikan bagi anda, rasakan sensasinya.

Kawah Bromo yang selalu Instagramable, tak peduli pasirnya, bau kotoran kudanya, dan ramainya orang-orang yang berkunjung, kawah Bromo tetap menawan bagi saya. Saran bagi anda, kawah Bromo sangatlah panjang, jika anda baik-baik saja dengan ketinggian, berjalanlah lebih jauh di bibir kawah, anda akan menemukan tempat yang lebih bagus di kawah Bromo, dibanding hanya diam di tangga terakhir dan berkumpul di sana.
Lanjut ke bukit King-Kong titik menikmati Sunrise Bromo. Ya kami salah, menuju bukit King-Kong melalui Seruni adalah ide yang kurang bagus. Butuh hampir 1 jam dari Seruni menuju bukit King-Kong, sementara kami hanya membawa kurang dari 750ml air ditambah matahari yang semakin dekat dengan kepala kami. Tapi ya sudahlah, nasi sudah menjadi uduk.

Sorenya kami melanjutkan hari kedua Jazz Gunung 2018.

Performer malam itu ialah Ring of Fire , Surabaya All Stars, Bintang Indrianto, dan Barasuara. Semuanya ciamik, memukau dan jelas tak dapat saya siratkan. Tidak hanya Jazz, beragam genre seperti pop, funk, reggae, folk, etnik, hingga dangdut semuanya dipadukan secara jenius oleh ahlinya. Entah mengapa di hari kedua saya semakin emosional. Menikmati semua suguhan ini membuat saya sangat terharu. Sangat indah. Bintang Indrianto dengan “Soul of Bromo” nya, lagu-lagu yang dibawakan oleh Syahrani bersama Surabaya All Star, belum lagi para kaum masa kini yang membawakan lagu dengan lirik bermakna kuat yaitu Barasuara.

Dan akhirnya…

29 Juli 2018

Air mata sudah tak terbendung lagi…

Spesial Jazz Gunung tahun ini ialah hari ketiga diselenggarakan di pagi hari. Sekitar pukul 5.30 pagi sudah mulai terdengar suara dari Bonita, buru-buru kami langsung ke venue. Sangat syahdu sekali hingga saya tak dapat menahan air mata. Entahlah, saat itu saya merasa sangat diberkati sekali! Ditambah dengan lagu yang dibawakan Bonita and The Hus Band, yang berjudul God Came To Me yang diciptakan oleh Adoy, gitaris dan suami dari Bonita. Dalam lagu ini ia menceritakan pengalaman mengenai perjumpaan pribadinya dengan Tuhan. Tidak diceritakan secara spesifik bagaimana perjumpaan yang dia alami. Visual, audio, atau peraasaan kah, tak masalah bagi saya, Tuhan punya caranya sendiri.
“.. Nothing special with Me coming to you, I’m always here with you.” Liriknya sangat sederhana, namun manis :’)
Dilanjutkan penampilan romantis dari Endah n Rhesa, Bianglala Voice, dan Nona Ria. Semuanya ialah accoustic performance. Jazz Gunung paham benar cara menyajikan suguhan yang terbaik bagi para penikmat musik. Di hari ketiga mereka ingin agar jamaah aljazziyah tak serta merta fokus menikmati musik yang full band tapi menikmati sajian Bromo yang kian menawan yang tepat berada di belakang stage seiring dengan sinar matahari yang menyinari pesonanya sambil disenandungkan dengan accoustic performance. Menurut saya ini sajian terbaik dibanding private concert di hotel bintang 5. Ahh.. Praise the Lord!
Sekitar pukul 10 pagi berakhirlah acara Jazz Gunung 2018. Meninggalkan Bromo munuju Bandara Juanda lalu ke Soetta, lalu kami kembali pada rutinitas tanpa mau melupakan sedikit pun tentang Bromo dan Jazz Gunung.

Lagi-lagi Jazz Gunung meninggalkan kesan manis bagi saya. Saya begitu sangat menikmati bagaimana mereka membangun suasana yang berbeda dalam menikmati musik yang berkelas. Lokasi , venue yang unik, pemilihan para musisi, audio yang berkualitas karya anak bangsa, pencahayaan yang tak kalah dari konser musik di tengah kota, dekorasi yang berbeda tiap tahunnya, dan bonus tahun ini adalah menikmati music di pagi hari. Semuanya epic, semuanya sempurna dalam pandangan saya. Tak ada provokasi, perbedaan prinsip, semuanya kompak melupakan ego masing-masing dan menyatu dalam musik.

Pemaknaan Jazz saat ini memang telah bergeser. Sudah terlalu banyak inovasi pada genre Jazz. Namun, sama seperti tahun sebelumnya saya berharap Jazz Gunung tetap berprinsip dengan mendatangkan musisi dengan musikalitas yang berkelas, bukan hanya mengenai popularitas. Indonesia memiliki banyak musisi indie dengan skill yang luar biasa, Jazz Gunung dapat menjadi salah satu tempat untuk mereka dapat terpelihara.
Terima kasih Jazz Gunung, terima kasih telah menginspirasi.
Selamat satu Jazzawarsa.

Kali ini dengan mantap saya katakan, sampai bertemu di Jazz Gunung 2019!

Continue Reading

​Sumbing – 3371 mdpl

Ya, akhirnya penantian 2 tahun terselesaikan juga. Masih teringat jelas di benak saya bagaimana Merbabu menunjukkan pesonanya tepat di depan mata saya. Gulungan awan, Sabana, kabut, sunrise, udara, dan apapun mengenai Merbabu bagai candu bagi saya (astaga,saya terharu). Merbabu adalah gunung pertama yang berhasil membuat saya jatuh cinta akan puncak Indonesia. Cantik sekali (seketika saya kembali kepada dua tahun lalu dimana saya menikmati semua yang disajikan Merbabu kepada saya, ah) Inilah yang membuat saya selama dua tahun seperti orang kebingungan dan panik, mencari semua orang yang juga tertarik akan puncak-puncak Indonesia. Hingga waktunya pun tiba, tahun inilah waktunya. Kalau kata orang sih “Mountain are calling, I must go”
#ciyegitu

Tidak ada yang kebetulan
Saya kenal dia , dia kenal dia, ternyata dia ini dan ternyata dia itu. Bermula dari saya Bernie (baru dikenalin), Bimo (baru kenal yang ternyata anak UMN juga), dan Anggie (my beloved best friend! kiss!), lalu Lusy (temen gereja, yang belum deket), ditambah Tari (temen gereja, yang baru pulang dari negeri orang), disusul ka Prima (temen gereja baru kenal, domisili di Melbourne).  Semuanya ya terjadi begitu saja, Maha Kuasa telah menggariskannya untuk kami. Sampailah pada keputusan kami untuk memilih Sumbing atau Sumbing yang telah memilih (?)

26/04/18
Perjalanan dimulai dari stasiun Rawa Buntu Serpong ke Pasar Senen. Sekitar pukul 22.30 kami berangkat dari stasiun Pasar Senen menuju stasiun Purwokerto, menggunakan kereta ekonomi seharga Rp140.000 yang telah kami pesan satu bulan sebelumnya. Setelah melalui drama di awal perjalanan karena hampir ketinggalan kereta, berangkatlah kami menuju stasiun Purwekorto. Perjalanan berlangsung selama kurang lebih 6 jam.

27/4/18
Tibalah kami di stasiun Purwokerto di pukul 4 pagi.
Pendakian Sumbing kali ini kami menggunakan jalur Kaliangkrik. Melalui studi literatur yang telah dilakukan, walau jalur ini lebih jauh namun hal ini tidak dapat membuat kami mengelak, Kaliangkrik memiliki banyak sekali pemandangan bagus (bonus) dan terdapat mata air di jalur ini.
Butuh sekitar 4 jam lagi untuk kami dapat sampai ke pendakian jalur Kaliangkrik dari stasiun Purwokerto. Kami menyewa sebuah mobil dari stasiun menuju Kaliangkrik denga harga Rp750.000. Sekitar pukul 8 pagi kami sampai di basecamp Kaliangkrik. Pendakian sudah di depan mata, kami perlu beradaptasi dengan Kaliangkrik. Kaliangkrik pun menyambut kami dengan hangatnya, cerah sekali cuaca hari itu. Di basecamp hanya ada rombongan kami, jadi kami dapat bersantai ria. Mulai dari sarapan, mengobrol, mencicipi kopi ka prima dan mengagumi seperangkat peralatan kopinya yang lengkap, membagi beban carrier, dan yang paling penting kami bisa sampai membuat nasi goreng di dapur basecamp. Alhasil kami memiliki bekal untuk makan siang di pendakian kami siang itu. Terima kasih kepada chef Tari.
Semua telah rapih, tekad dan niat kami telah bulat, saatnya kami memulai pendakian di pukul 10.30
“Sumbing..bing..bing..!”

Seperti jalur pada umumnya, pendakian diawali dengan menyisir lahan penduduk lokal. Sangat rapih dan indah. Maklum, sudah jarang sekali melihat yang seperti itu di Tangerang, tempat saya berdomsili saat ini. Pukul 12.15 sampailah kami di pos 1. Melanjutkan ke pos 2 memang tidak gampang. Trek menanjak tanpa ampun. Melihat Ka Prima yang sudah tidak tahan lagi, karena otonya yang “ketarik” kami pun harus berhenti dan istirahat makan siang sebelum mencapai pos 2.  Terima kasih kepada Bimo yang telah membantu memijit-mijit ka Prima wkwk, sangat membantu. Dari pos 2 ke pos 3 tidak seberat pos sebelumnya. Jalanan lebih banyak memutar dan landai. Belum lagi ditambah dengan pemandangan Sumbing yang .. indah? Cantik? Mempesona? apa yang harus saya tuliskan untuk menggambarkannya. Rasanya semua terasa lebih dari kata-kata itu.
Tak jarang kami berhenti lama demi menikmati suguhan Sumbing.

Tariklah napas sedalam-dalamnya,
Biarkan semua panca indera merasakannya
Biarkan setiap nya merasakan pesonanya

Hari mulai gelap, mata mulai sulit untuk melihat, apalagi tenaga yang sudah terkuras selama 6 jam lebih, namun pos 4 belum terlhat pula. Hingga kami nyaris saja kehilangan arah. Jujur saja, itu sudah benar-benar di ambang batas saya, yang saya ingat saya hanya diam tidak mampu berkata banyak dan melihat ke mana sepatu Bernie melangkah, karena selebihnya tak jelas di pandangan saya. Melihat ke atas atau ke sekeliling pun sudah tak sanggup, dingin dan gelap. Hingga terdengar teriak Bimo “Pos 4!”. Hhh.. akhirnya saya dapat bernapas lega.
Sekitar pukul 9 malam kami mendirikan tenda di tengah dinginnya Sumbing malam itu. Hanya ada tenda kami di sana, sampai tengah malam barulah ada tenda lain. Buru-buru kami memasak mie instant, saya pun makan apapun yang tersedia untuk melawan dingin yang hebat malam itu. Tidak seperti bayangan saya saat di Merbabu (maklum saya hanya baru ke Merbabu dan Sumbing ini) dimana terdapat Sabana luas tempat untuk bermalam yang nyaman, pos terakhir Sumbing via Kaliangkrik tidak luas. Bahkan kami mendirikan tenda di tempat yang miring, sampai-sampai tak sadar kami merosot turun saat tidur.

28/4/18
Summit Attack
Rencana memburu Sunrise saat di puncak pun tinggalah sebuah wacana. Namun rasanya tak perlu pula menyesal. Dari pos 4 pun kami dapat menyaksikan Sunrise yang menakjubkan. Inilah klimaks yang saya cari saat pendakian.

dimana saatnya menunggu bukan ditunggu
dimana setiap detik begitu memuaskan candu
namun kembali membuat candu

Setelah puas menikmati matahari terbit,  matahari pulalah yang membawa kami untuk melanjutkan untuk ke puncak. Sekitar Pukul 6.40 kami mulai penyelesaian pendakian Sumbing ini. Medan cukup sulit dan tak jarang kabut melewati kami, namun tak memutuskan langkah kaki kami. Setelah 2 jam perjalanan sampailah kami kepada Puncak Selo Konten, Puncak pertama Sumbing via Kaliangkrik. Tentu tak puas hanya dengan puncak pertama, kami lanjutkan ke puncak Sumbing lainnya.  Kurang dari setengah jam perjalanan, sampailah kami di Puncak Sejati 3371 mdpl. Semua lega, terasa begitu cepat berlalu. Indah sekali. Melihat indahnya Indonesia dari puncak Sumbing. Ucapan syukur yang tiada henti bagi Sang Pencipta yang telah berkenan atas perjalanan kami.

Klise memang, ada terlalu banyak alasan untuk bersyukur. Namun saya terlebih bersyukur oleh karena syukur ini saya naikkan karena kejadian alam Indonesia yang dahsyat yang sungguh di luar batas nalar ini yang saya saksikan jelas di depan mata.

Continue Reading