´╗┐Itu dan itu

Kembali !
 
Terlalu banyak drama. Benar-benar terlalu banyak drama. Carut marut situasi politik yang penuh dengan kompleksitas cukup menyita perhatian saya. Politik? Di 22 tahun usia ini, apakah saya sudah pantas mengkritisi politik? Lagipula saya adalah seorang graphic designer. Pantaskah saya berkata bahwa kini agama dan nama Tuhan menjadi barang murah dalam mengejar target politik? Pantaskah saya berkata bahwa kini masyarakat seakan mengedepankan Tuhan dan nilai keagamaan, akan tetapi sebenarnya sedang diperalat oleh nafsu kekuasaan, uang, dan sejenisnya? 
Ah.. saya memang bukan pakarnya. Saya hanya penikmat belaka yang sedang coba-coba ambil pusing dengan urusan itu dan itu. 

By the way! Happy 2017! Menjadi lebih baik. Ya, semua orang tentu menginginkan hal itu. Saya ingin mencoba hal baru di tahun ini. Merealisasikan hal-hal aneh yang terkadang muncul dengan tidak beraturan dari kepala ini, tanpa perlu adanya pertimbangan yang serius. Tau Panji Pragiwaksono? Saya pernah dengar saat ia open mic, ia berkata “Lebih baik sedikit lebih berbeda daripada sedikit lebih baik.” Saya setuju, karena semua yang mirip-mirip memang membosankan. Namun, yang berbeda terkadang mungkin sering terlihat aneh bahkan bodoh. Ya, pada akhirnya harus siap dikatakan aneh, bodoh, tidak jelas, dan saudara-saudaranya atau sejenisnya. Jika tidak, saya pikir saya akan terperangkap pada situasi yang sering dibilang yaitu “biasa-biasa saja”. My God, saat saya menulis ini pun, saya pun bertanya serius pada diri saya, “Saya mau melewatkan kehidupan ini dengan “biasa-biasa saja”?” Terlalu banyak yang “biasa-biasa saja” di luar sana. Oh come on! 
Foto di atas ialah foto jalan menuju kantor saya. Ada waktu khusus agar jalan ini terasa menenangkan dan menyejukkan, lebih dari waktu itu jalan ini terasa gerah karena terik matahari  dan sisanya akan terasa menyeramkan dan menakutkan. Hm.
Ada lagi. Kalau yang ini adalah foto yang saya ambil di belakang kantor saya. Setiap Jumat, hanya setiap Jumat, akan ada “pasar kaget” yang menjual makanan dan pakaian. Karena kantor saya terletak di kawasan industri, maka akan ada karyawan lain dari pabrik-pabrik lain. Sangat ramai.  
Continue Reading

2016

Di penghujung tahun ini, rasanya sudah menjadi kewajiban untuk mengambil waktu sejenak lalu berdiam diri dan merenungkan akan apa yang telah terjadi setahun ini. Buat saya, tahun 2016 ini merupakan tahun kejutan. Bahkan setiap bulan yang saya alami, selalu penuh dengan kejutan. Naik dan turun. Ya, inilah proses kehidupan. Seperti emas yang sedang dimurnikan, demikianlah proses yang saya alami (Amen!)
Terkadang rasanya sulit untuk menerima situasi dan keadaan. Namun, di akhir tahun ini, saya setuju dengan anda (ya, anda) memang sepertinya hidup perlu banyak drama. Ini dan itu. Kadang memang merepotkan, dan ada yang sampai terlalu menguras tenaga untuk berpikir. Mencoba menikmati. Menikmati, namun jangan mencintai, oleh karena saya yang percaya bahwa di bawah kolong langit tidak ada yang kekal. Di tahun 2016 ini saya belajar untuk dapat lebih mengenali diri sendiri. Mengenali sejauh apa kemampuan saya, seberapa jauh saya harus berpikir, seberapa jauh saya harus bertindak, seperti apa saya harus merespon, dan sebagainya. Jika tidak, saya sepertinya akan menjadi stranger for myself. Pada akhirnya semakin saya mengenali diri saya sendiri, semakin saya menyadari bahwa daging ini lemah dan sangat terbatas. Oleh karena itu, saya memerlukan pribadi yang tidak terbatas yang nyata bukan khayalan belaka. Penyertaannya yang tiada henti bahkan ajaib yang memampukan saya melewati setiap drama kehidupan ini. Bisakah saya melewati sendiri dengan hanya menuruti pikiran dan kedagingan ini? Tentu saya bisa. Namun damai sejahtera yang ia berikan saat berasamanya sangat nyata dan terlalu berharga untuk saya sia-siakan.
Kini saatnya bagi saya untuk kembali berkomitmen. Berkomitmen kepada cinta mula-mula. Cinta yang sejati. Yesus.
Continue Reading

Benar – benar

Jadi, tulisan ini ialah tulisan yang saya tulis dalam buku saya menggunakan pen.

24/11/16 Bener-bener / benar-benar hanya ingin menulis panjang  dengan menggunakan tangan. salah. Maksud saya dengan menggunakan pen. Tulisan panjang ini benar-benar sangat absurd, karena memang hanya untuk menulis menggunakan pen. Tapi pen yang saya pakai ini, bukan sembarang pen. Pen ini lebih tebal dari pen biasanya. Nama pen ini ialah … DRAWING PEN dari SNO*MEN.  Salah. SNO*MAN atau manusia salju. Saya tidak mau menyebut merk, karena bukan iklan atau promosi. Memangnya siapa saya? OK. Balik lagi ke topik. Memang topiknya apa? OK. Mulai topik Baru. Duh kenapa ‘B’ nya di capslock. OK. Mmmm .. Hm..  Apa ya. Menulis apa ya? Oh. Katak, katak apa yang bersaudara? Katak beradik. Di samping saya menulis ini, saya juga menghisap, eh kok menghisap? Sebentar.. Oh menyeruput, menyeruput? Baiklah, saya sedang menikmati segelas cokelat dingin. Duh, pen ini tidak enak buat menulis. Apakah saya punya pen lain? Tidak. Hanya ini. Saya bosan melihat komputer atau layar monitor. Mata saya sakit. Literally sakit. WOW! saya baru sadar, tulisan ini jelek sekali. Walaupun tulisan ini hanya sekedar untuk supaya agar menulis menggunakan pen, ya boleh lah ya sedikit curhat. Saya kesal. Akhir-akhir ini saya tidak teliti. Bukan akhir-akhir ini sih, sudah dari lama sekali dan penyakit ini susah sekali sembuhnya. Iya benar, saya tidak sabar. Jadi saya ingin cepat sekali selesai. Iya benar, saya harus melatih kesabaran saya. Semangat. Tulisan saya benar-benar jelek. Sekarang saya butuh air putih. Di mana ada air putih? Katanya sumber air sudah sekat? Lupakan. Ok, kembali lagi ke topik. Memang ada topik? Saya suka menari. Mengapa kalau sebut menari kesannya jadi menari tarian tradisional? Tapi apapun itu, saya suka menari, menari apa saja. Karena menari itu tidak membosankan. Lalu saya suka makan-makanan manis. Saya bisa satu hari hanya makan roti-roti manis. Lalu saya tidak suka makan nasi. Bukan untuk diet, tapi tidak suka saja. Lalu saya suka kamu. Maaf kalau tulisan ini tidak bermanfaat. Oh. Saya memiliki sebuah mimpi besar. Saya ingin sekali menjadi seorang Creative Director. Ya, itu perlu proses saya tahu. Tidak mudah. Tidak gampang. Bukan mudah. Bukang gampang. Absurd. Ya, saya tahu saya absurd. Saya (sepertinya) tidak normal. Maukah kamu / anda berteman dengan saya? yang tidak normal ini? Kertasnya sudah hampir habis, saya harus mengakhiri hubungan ini. Salah. Tulisan ini. Memangnya saya berhubungan dengan siapa? End

Continue Reading

´╗┐Sadar

Tidak terlalu penting, em.. tapi sepertinya layak untuk dibagikan. 

Saya sebenarnya lebih suka mendesain dengan mendengarkan musik tepat di telinga saya atau dengan menggunakan headset. Rasanya seperti hanya ada saya, musik, dan desain. Namun, 2 minggu belakangan ini, saya mencoba menantang diri saya untuk mendesain tanpa menggunakan headset. Alhasil semua masuk ke ke telinga saya. Pertama, tentu saja sangat mengganggu dan pekerjaan menjadi lebih lama dari biasanya. Namun belakangan saya sudah dapat membiasakan namun ya pekerjaan menjadi melambat. Menarik, saat saya membuka headset dan mencoba untuk tetap sadar akan sekitar, ada banyak hal yang saya dapatkan. Seperti di kantor, saya dapat mengetahui jenis musik apa yang mereka sukai tanpa perlu saya bertanya. Seorang menyukai musik dangdut dan selalu menyanyikan apa yang ia dengar. Seorang yang lain selalu berkata “oke baiklah”. Adapun yang lain, saya dapat paham sekitar jam berapa biasanya ia datang ataupun tiap berapa jam sekali seorang yang lain pergi ke toilet. Lalu ada pula seorang ibu yang selalu menirukan perkataan anaknya yang masih kecil di kantor. Bahkan saya dapat memahami jika teman kantor saya yang lain sedang terlihat pusing dengan pekerjaannya hanya dengan gerak-geriknya yang sedikit.
Atau mungkin saat di coffee shop. 
Saya dapat mendengarkan sekumpulan anak SMA yang sedang berbicara “gue tu ya kadang bingung sendiri, kalo tulis contekan di kertas, udah gue tulis nih, yah ujung-ujung nya gue hapal, jadi buat apa coba gue buat contekan.” 
Atau ada yang sedang video call dengan pacar bulenya “Here is my coffee, bae!” Atau bahkan gerak gerik seorang satpam coffee shop yang menggelikan menurut saya.  Dan percakapan seorang dengan temannya di telepon yang akan datang dr Aussie “EH ! pas lu pulang kita dugem yuk, tapi lu yang bayar lah. Kan lu yg udah kerja.”
Lalu sekumpulan oma-oma membicarakan hal seperti ini (ini serius), “Ya semuanya kembali kepada Tuhan lah ya.”
Kemudian di ujung mata saya, orang sebelah saya seperti menengok ke arah kanan dan kirinya seakan hendak memillih antara saya atau di sebelah kirinya. Ternyata ia ingin menitipkan laptopnya karena mau ke toilet dan ia menitipkan ke saya. Setelah saya lihat, ternyata di sebelah kirinya sedang sibuk dengan pekerjaanya sambil memakai headset di telinganya.

Hm, kadang, kita perlu melihat sekeliling, ya.. untuk sekedar menjadi hiburan bagi kita atau lebih baik lagi menjadi pembelajaran. Bukan bermaksud untuk kepo, namun lebih ke sadar akan sekitar.​​

Picture

Ya, saya telah memaafkan barista yang telah mengubah Vicky menjadi Ficay.
“atas nama siapa ya?”
“Vicky mba.. Ve Ii Ce Ka Ye ” *spelling sejelas-jelasnya
“oke”

Continue Reading

Telat jatuh cinta

​Menyelesaikan liburan yang masih menggantung, setelah berada di Lampung selama 2 minggu saya memutuskan untuk ikut ke Salatiga, Jawa Tengah bersama kakak saya. Walaupun sebelumnya pernah berkunjung di Salatiga, namun baru kali ini saya benar-benar menikmati Salatiga. Kota kecil dengan cuaca yang sejuk dan memiliki banyak sekali tempat nongkrong yang asyhiik. Itulah kesan saya selama kurang lebih dua minggu di sana. Tidak seperti tempat nongkrong ataupun kafe di daerah Serpong atau Jakarta yang berada dalam ruko, tempat asik di sana berada dalam rumah yang dijadikan tempat makan, sehingga menimbulkan pengalaman yang berbeda bagi saya. 

OK, lupakan sejenak mengenai kota kecil yang menenangkan ini. Mari kita fokus ke dua hari sebelum saya kembali lagi ke Serpong. Gunung Merbabu. Ya, disanalah saya mengakhiri liburan singkat ini. Namun tidak akan pernah hilang di benak saya. Bagaimana keindahan Merbabu telah membuat saya seakan terhipnotis. Ini adalah kali pertama bagi saya mendaki gunung dan terima kasih Merbabu, telah membuat kesan pertama yang luar biasa akan mendaki. Baiklah, saya terlalu bersemangat sehingga saya lupa menceritakan perjalanan ini dari awal.

22/7/2016
Pendakian saya lakukan bersama 6 orang lainnya. Sehingga jumlahnya ganjil, bersama saya menjadi 7. Dua orang laki-laki dan sisanya perempuan. Semuanya ialah teman kakak saya. Karena pendakian ini kami tempuh dari jalur Selo maka perjalanan kami mulai dari Salatiga menuju Boyolali. Salatiga menuju Selo ditempuh sekitar satu setengah jam lebih menggunakan motor dari pukul setengah 2 pagi. Perjalanan yang panjang, dingin, dan gelap. Tibalah kami di desa Selo. Kami memilih jalur pendakian Selo Baru karena dilihat dari rutenya akan lebih cepat sampai ke Sabana dibanding jalur Selo lama. Menurut orang di sana pun kami akan lebih banyak mendapatkan ‘bonus’ jika melewati Selo Baru. Kami beristirahat sampai menunggu matahari terbit di basecamp. Hingga sekitar pukul 9 pagi, kami memulai pendakian. Karena saya pemula, jadi saya membawa keril yang kecil, wah..menyenangkan.

Sebagai pendakian pertama saya, saya ngeri melihat track ini. Seringkali licin dan sangat miring. Dari awal kami sudah memutuskan bahwa perjalanan kami ialah santai sehingga tak perlu diburu-buru. Oleh karena itu, kaki saya pun tidak bekerja terlalu keras, karena kami seringkali berhenti untuk istirahat. 
Singkat cerita melalui perjalanan yang panjang, dari pos 1, 2, dan 3, tibalah kami di Sabana 1. Teman kakak saya bilang, bahwa saya beruntung karena di pendakian pertama saya, cuacanya sangat cerah. Merbabu pun memperlihatkan kecantikannya dengan luar biasa sehingga semua jelas dalam pandangan saya. Kami pun mendirikan dua tenda dan bermalam di Sabana 1, lalu melanjutkan pendakian sampai ke puncak pada esok hari. 

23/7/2016
Paginya, sekitar pukul 5.30 saya memaksakan mata agar terbuka. Inilah sunrise pertama saya di atas gunung yang selama ini sudah lama saya inginkan. Akhirnya saya melihat sendiri, matahari yang seakan keluar dari persembunyiannya dan menampakan dirinya di hadapan saya, lalu berkata “whassssuuup!!!” ok. berlebihan.
Summit Attack!
Pukul 08.30 Walau rasanya terlalu siang untuk Summit Attack, tapi tak menyurutkan semangat kami untuk ke puncak. Sepertinya saya yang paling tidak sabar dalam pendakian ini. Saya selalu berada di depan, bahkan meninggalkan yang lain jauh di belakang saya. Karena bukan saya yang membawa air, dan saya sering berjalan sendiri, tidak jarang saya meminta air kepada pendaki lain. hm, inilah keuntungan menjadi wanita. Kalau kata orang bilang, sifat kita akan terlihat dalam pendakian. Ya, mungkin terlihatlah sifat saya di sini. Tidak sabar. 
Perjalanan sampai puncak membuat saya semakin tidak sabar. Kalian tahu ,bagaimana perpaduan antara rasa penasaran saya yang kuat ‘dicampur’ dengan menipisnya tenaga hingga napas yang sudah sepenggal, kemudian ‘dibubuhi’ dengan track yang semakin tidak menentu. Namun inilah yang saya suka, dimana jika saya bertemu dengan pendaki lain, rasanya seperti sudah lama kenal. Menyapa, mengajak ngobrol, dan tentunya memberikan semangat. Tidak jarang pula mereka berkata “semangat mbak, dikit lagi!’ Walaupun pada kenyataannya masih sekitar 1 atau 2 jam lagi.
​Akhirnya.
Sekitar pukul 11.00 siang. Sampailah saya di puncak Kenteng Songo 3142 mdpl. Sesampainya di sana saya langsung diberi ucapan selamat dari tim lain yang seringkali bertemu dengan tim kami. Rasanya seperti berada di dunia lain (ini tidak berlebihan, namun memang kenyataannya seperti itu menurut saya). Melihat samudera di atas langit dengan mata saya sendiri. Bahkan terlihat pula puncak-puncak dari gunung lain di sekitar Merbabu. Indah sekali! 

Tiada hentinya saya bersyukur, Tuhan memberkati pendakian pertama saya dengan memberikan cuaca yang bagus dan semua lancar hingga sampai pada puncak dan sekembalinya kami ke rumah kami masing-masing. Terlalu banyak keindahan Merbabu, hingga saya tidak sempat mengabadikan lewat foto, namun biarlah semuanya tersimpan dalam ingatan saya. Merbabu merupakan gunung pertama yang naiki, dan tentu rasanya saya ingin tahu bagaimana rasanya dengan gunung yang lain. hm saya ketagihan. Dalam hati saya berkata, “AH! saya telat jatuh cinta..”

Continue Reading