Bersih-Bersih

“Tak ada yang lebih baik dari penggali kubur, mereka melayani orang-orang yang tak lagi butuh dilayani” kata si orang mati

Sudah lama sekali rasanya tak menikmati karya fiksi sastrawan Indonesia. Bukan, bukan berarti selama ini saya menikmati karya fiksi penulis luar. Namun belakangan saya lebih suka buku-buku motivasi. Ya, anda dipersilahkan untuk menyimpulkan bahwa saya kurang motivasi.

Sebuah karya dari Eka Kurniawan berjudul Cantik itu Luka. Sesuai dengan judulnya anda dapat menemukan dalam buku ini bahwa setiap karakter wanita yang berparas cantik memiliki lukanya masing-masing. Melalui para wanita cantik inilah Eka Kurniawan merangkai cerita asmara bahkan incest, mitos, magis, sejarah bahkan cerita rakyat. Mengambil latar waktu jaman sebelum kemerdekaan hingga PKI, penulis mengajak pembaca untuk melihat bagaimana kondisi social, ekonomi, dan budaya di jaman tersebut. Diawal cerita saya dibawa kesana kemari karena alur waktu yang dipakai maju mundur. Namun setelah membaca seperempat dari buku ini baru saya menyadari ada dimana saya sekarang.

Singkatnya,

Dewi Ayu yang adalah tokoh utama pada cerita ini memiliki paras yang sangat cantik lahir dari seorang Belanda dan nyai digambarkan sebagai sosok yang kuat, berprinsip, dan sangat peduli dengan keluarga dan sesamanya. Terlihat jelas saat ia berada di kamp untuk warga setempat yang dibuat oleh tentara Jepang, Dewi Ayu yang nampak sangat peduli dengan kondisi kamp yang sangat menyedihkan tersebut. Banyak dari warga di kamp itu mati karena penyakit malaria dan kelaparan. Hingga ibu dari sahabatnya sekarat dan Dewi Ayu menyuruh sahabatnya meminta ijin kepada Jendral Jepang untuk mengambil obat dari dokter. Jendral akan memberikannya namun dengan syarat ia mau bercinta dengan sang jenderal. Tidak terima sahabatnya diperlakukan seperti itu, Dewi Ayu merelakan dirinya sendiri untuk bercinta dengan sang Jendral. Namun ironinya, sebelum dokter datang, ibu dari sahabatnya telah mati.

Tapi masalahnya tidak sesederhana itu, ternyata. Si gadis Ola tak bisa mengatakannya dalam keadaan hati yang terguncang, tapi dokter segera bisa memastikan. “Perempuan ini sudah mati,” kata si dokter, pendek, dan menyakitkan.

Semuanya berlalu begitu saja seakan nasib sengaja memaksa Dewi Ayu menjadi pelacur. Namun bukan menjadi pelacur yang diinjak-injak masyarakat, Dewi Ayu malahan menjadi pelacur yang dihormati seperti pejabat kebanyakan. Dewi Ayu melahirkan empat anak perempuan. Tiga dari mereka sangat cantik, pengecualian bagi si bungsu, oleh karena ia telah bosan dengan anak-anak perempuannya yang cantik, ia berharap anak bungsunya buruk rupa, dan Tuhan mengabulkan permintannnya.

Ia akan berdoa kapanpun ia ingat; di kamar mandi di dapur di jalan bahkan ketika seorang laki-laku gembrot berenang di atas tubuhnya dan ia teringat, ia akan segera berkata, siapap pun yang mendengar doaku, Tuhan atau iblis, malaikat atau Jin Iprit, jadikanlah anakku buruk rupa.

Tidak seperti yang ia bayangkan bahwa kemalangan terjadi kepada keempat anaknya. Mulai dari kehamilan Alamanda (anak pertama Dewi Ayu) yang berakhir di bulan ke sembilan kemudian ia mengeluarkan angin dari mulutnya yang sangat banyak dan seketika itu juga perutnya menjadi kempes. Hal ini terjadi berulang kali hingga anaknya benar-benar lahir di kehamilannya yang keempat. Kemudian Adinda (anak kedua), bersuami yang sebelumnya merupakan kekasih dari Alamanda kakaknya dan ia rela hidup dalam ketakutan lantaran suaminya yang adalah seorang PKI. Maya Dewi (anak ketiga) yang dipaksa menikah oleh ibunya dengan seorang preman yang merupakan pelanggan dari ibunya sendiri. Dan tentu saja Si Cantik (anak terakhir) namun sayang rupa tak secantik namanya, dikawini oleh keponakannya sendiri, namun di depan matanya Si Cantik melihat kekasih hatinya mati dibunuh.

Di akhir tulisan seperti ada kesimpulan bahwa kemalangan yang terjadi dikarenakan paras cantik. Seperti kutukan yang bermula dari Dewi Ayu, Sang pelacur terhormat hingga kepada anak cucu dan menantunya. Membaca Cantik itu Luka mengingatkan saya akan Sang Maharani oleh Agnes Jessica yang saya baca saat SMA. Sama-sama mengambil latar di jaman penjajahan Indonesia dan menceritakan kelamnya nasib perempuan dan bahkan seringkali diperlakukan sebagai ‘objek wisata’. Kecantikan seperti tidak menjadi keuntungan bagi mereka di jaman ini, melainkan menjadi beban tersendiri bagi empunya.

Kalau sekarang ‘sih bisa jadi influencer.

..

Lukisan hasil bersih-bersih saya kerjakan selama kurang lebih dua bulan. Oleh karena saya sangat menyukai lukisan bertekstur, maka saya mencari apa saja untuk dijadikan tekstur, akhirnya Bersih-Bersih dibuat dari kapas yang saya pakai untuk membersihkan wajah. Setidaknya saya telah membuat kapas ini berperan ganda selain jadi pembersih namun dapat bernilai estetika #yass. Diselesaikan dengan cat akrilik pada ukuran seperti biasa 40x60cm.

Continue Reading

Momen Apik

Pernah
Kulemparkan daun hingga kaca itu pecah berantakan
Esoknya kubanting kertas hingga kayu itu patah berserakan
Lalu kuambil pensil kubuang hingga jalan itu terbagi dua
Tak kuasa kutanggalkan ikatan rambut yang kukenakan dan melepaskannya dengan jariku maka hancurlah tembok itu menjadi beberapa
Akhirnya
buru buru kuambil parfum yang ada di tasku kusemprotkan ke atas maka hingga terbukalah seluruh awan-awan
Berganti ruangan dan monitor di depanku,
Kulanjutkan rutinitas

Menutup tahun ini saya mencoba memutar kembali segala ingatan di kepala. Momen apik untuk dapat berevaluasi. #asek
Saya sangat puas dengan kehidupan saya selain bekerja. Tentu saya menikmati pekerjaan saya dan semua dinamika di dalamnya. Sebagai desainer grafis, jelas ini merupakan hobby becomes career. Namun pekerjaan tetaplah pekerjaan. Saya memiliki otoritas yang perlu saya hormati. Idealis saya tak mungkin dengan seenaknya saya eksekusi begitu saja. Menjadi freelancer tentu sangat menggoda, tapi akan menjadi semakin sulit bagi saya untuk dapat merealisasikan work life balance. Yass!

Saya memiliki tempat di gereja, tempat di mana saya bertumbuh untuk berkomunitas, bertukar pikiran, dan saling menguatkan, bonusnya saya dapat menyalurkan hobi menari saya.
Selain itu tahun ini pun spesial sekali karena dapat bertemu orang-orang hebat yang memiliki kecintaan akan alam. Ya, gunung lebih tepatnya. Manusiawi, tentu ada rasa bangga bisa naik 4 gunung di tahun ini Sumbing, Gede, Bromo, Sindoro dan Kembang, namun saya harus tetap menyadari bahwa akan semuanya itu, ini merupakan kesempatan dan berkat bagi saya dapat menikmati dapat belajar dari alam.

Percakapan kecil di lukisan ini, mungkin sebuah percakapan surreal bagi anda, tapi saya yakin ini nyata adanya. Melalui seluruh proses setahun yang seringkali dengan lancangnya saya bergantung pada daging yang lemah ini, bahkan membuat-buat hal-hal yang tidak perlu untuk saya kuatirkan. Hingga akhirnya saya kutip lirik dari Hillsong – So Will I. “If creation sings Your praises so will I..” Karena oleh semuanya hanya ucapan syukur saya bagi Pencipta.

  

Sebut saja : “In the end”
Akrilik dan lainnya pada kanvas 40x60cm

 

Continue Reading

Teruntuk Angan-Angan

Cuaca cerah seketika mendung
Saturasi sekitar turun lantang
Ramai orang berlalu berubah hening
Kabung dan sendu pun datang

Teruntuk yang telah tiada,
Venom

Venom adalah seekor anjing, bukan parasit. Kecil sekali seperti kucing, Chihuahua campuran. Ia meninggalkan keluarga saya setelah dua tahun waktu kami bersama. Oleh karena tukang galon yang tidak bertanggung jawab, yang malah pura-pura bodoh. Dengan dalih bertanya dimana anjing saya, padahal dia sendiri yang pelakunya. Ah, kasihan Venom. Hubungan saya dengan almarhum memang tidak begitu dekat, hanya jika saya pulang ke rumah di Lampung saya baru bisa memeluk dan menciumnya. Walau memang kehadiran Venom sudah menggantikan saya sebagai anak kedua di keluarga :’)

Balik ke cerita.

Tepatnya di tanggal 7 September 2018 saat saya pulang ke Lampung, sehari sebelum kakak saya menikah. Pagi itu, cuaca cerah sekali di Lampung, saya memutuskan untuk membuka kandang doi. Saya pun langsung teralihkan dengan pembicaraan mengenai motor di rumah yang sudah lama tidak terpakai dan rusak, tanpa terpikir untuk menutup sela pagar rumah saya dengan kayu yang telah disiapkan agar doi tidak kabur. Ya, anda tahu apa yang terjadi kemudian.
Tiba- tiba tukang galon langganan datang dan langsung membahas mengenai anjing saya yang sudah tidak ada di kandang, padahal menurut ibu saya, selama kami berlangganan dengan tukang galon tersebut, ia tidak pernah notice dengan Venom. Begitu saya sadar kalau Venom keluar dari pagar saya menyuruh Christy (adik saya) untuk mencari. Tak lama, Christy datang dengan kabar buruk.

Inailahi..

Benda bulat itu mengggilas seluruh badan
Menggerakan setiap sendi, tulang, bahkan mungkin organ
hingga membuat mereka berpindah dengan cepatnya
Sayang, makhluk kecil itu tak cukup kuasa menahannya
Sadis

Venom saya temukan kaku di tengah jalan. Jalan dimana tukang gallon itu baru saja lewati.  Saya terkejut bukan main. Namun ya apalah daya, ajal telah menjemputnya. Padahal biasanya pun ia kabur dan akan kembali lagi, namun tidak kali ini. Mungkin ia menunggu saya pulang untuk berpamitan. Ah sudahlah saya tak sanggup menceritakannya,berat. Sudah jangan cerita mengenai kejadian ini lagi, jika sampai ke ibu saya, pasti saya akan disalahkan lagi atas kasus ini.

 

Karawaci, 22 September 2018
Sabtu siang yang cerah sekali dan sekitar mendukung saya untuk kembali melukis. Mungkin karena sedang rindu-rindunya dengan alam sehingga saya terinspirasi dari memori dari visual akan alam. Hm, entah memori atau hanya angan-angan saya akan alam, tidak begitu yakin.

Sebut saja : “Visualisasi Angan-Angan”
Akrilik pada kanvas 40x60cm
Sentuhan koran bekas untuk tekstur

Continue Reading

Daripada Ini Mending Itu

Adalah kengerian bagi saya,
jika semua ide yang saat itu ada semuanya berlalu kemudian larut tertuang waktu

Karawaci, 15 Juli 2018

Minggu di pagi itu saya bangun, saya bercermin sebentar, saya mandi, saya memakai baju, saya membuat susu, saya menyalakan musik, saya melamun sebentar, lalu seketika semua ide-ide seakan terburu-buru menyambangi. Ide yang muncul tak hanya mengenai seni, banyak hal seperti apa yang akan saya makan hari ini, apa yang harus ucap saat orang berkata,
“lu sisiran ga sih tadi pagi?”
“jadi resign ga sih?”
dan sebagainya.
Alhasil saya pikirkan semuanya dengan tergesa-gesa. Ya, hal ini seringkali terjadi dan cukup melelahkan bagi saya. Hingga akhirnya, saya mengambil sebuah kanvas di atas rak yang sudah lama semenjak saya membelinya tak sedikit tinta atau apapun di atasnya. Hanya debu halus yang semula tipis tak terlihat perlahan berhasil membuat kanvas saya menjadi menguning karena semakin menebalnya debu.

Saya putuskan saat itu saya ingin menantang diri saya untuk menumpahkan apa yang ada di kepala tanpa henti. Hmm bagaimana ya menjelaskannya. Jadi, karena saya pikir ide di kepala saya seperti sedang penuh, saya ingin menumpahkannya begitu saja, tanpa perlu berpikir panjang, tanpa perlu melibatkan perasaan yang begitu mendalam, semuanya spontaneous. Namun sebelum mulai saya buka kembali spotify dan langsung mengetik Solas PM dari Dewa Budjana. Semenjak Solas PM sampai pada indera pendengaran saya, saya jatuh cinta bukan main. Karya jenius dari seorang Dewa Budjana! Ya, Solas PM mambawa saya kepada tumpahan cat pertama di kanvas itu, tentunya dengan berdasar pada segudang ide dan pikiran segar pagi itu. Karena saya suka sekali tekstur. Jelas, yang menjadi senjata utama dan mendasar bagi saya ialah segala hal yang sudah tidak terpakai lagi, ya sebut saja kertas bekas.

Semuanya berlalu begitu cepat, betul-betul tanpa henti. Saat alunan dari Dewa Budjana itu berhenti, lagi dan lagi saya mainkan. Apa yang terjadi sungguh tidak saya duga pula. Dimana saya menempatkan semua robekan kertas, tekstur yang muncul dari lem fox, pemilihan warna, sampai kepada presentase air dengan cat, semuanya seakan terjadi seperti mesin yang telah digunakan dengan rutin.

Tidak begitu melibatkan perasaan, membuat saya semakin larut dalam aktivitas ini

Satu setengah jam berlalu, satu setengah jam pulalah Solas PM berputar berulang kali. Selesai lah aktivitas saya pagi itu.
Ha ha ha !
Saya tertawa dan terbelalak tak percaya. Sungguh sebuah penampilan yang apik dari saya dan untuk saya sendiri (ya, anda dipersilahkan tertawa)

Akhirnya, selamat menikmati bagi anda yang ingin menikmati. Saya persembahkan penampilan dari saya untuk saya pagi itu dalam sebuah karya(?) Entah, saya tak memaksa anda untuk mengatakan ini adalah karya. Yang jelas saya tak menyesal menumpahkan semua ide yang mampir pagi itu, daripada larut oleh waktu, ngeri!

Continue Reading

Indahnya Jazz, Merdunya Bromo

Sementara alunan itu diperdengarkan
Aku terus mempertanyakan bagaimana mungkin ia mampu masuk ke dalam setiap saraf hingga menenangkan setiap bagiannya?
Sementara alunan itu diperdengarkan
Aku terus mempertanyakan bagaimana mungkin ia mampu masuk ke dalam sukma hingga menyebarkan energi positif ke seluruh raga?

Aku bahkan tak sampai hati untuk mengupas setiap lapisannya
Terlalu sayang untuk ditelisik
Aku tak mau pusing, hari ini aku mau dipuaskan
Hingga kuputuskan, kubiarkan saja mereka tetap menyatu
Mempercayakan kepada ahlinya memanjakan telinga

Jazz Gunung 2017 meninggalkan kesan bagi saya. Keinginan untuk kembali jelas tentu saja ada. Namun dengan berbagai pertimbangan saya pikir tahun ini saya tidak perlu lagi. Ya, hitung-hitung saya sudah pernah sekali ke Jazz Gunung. Namun, siang itu saat perjalanan menuju ke Cikampek (perjalanan menuju ke percetakan) Lusy (teman gereja saya (@lusyanayulia jika anda ingin mengetahui lebih lanjut)) mengirimkan pesan melalui Instagram, mengajak saya ke Jazz Gunung. Tentu saat itu saya menolak. Namun begitu Lusy berkata bahwa ia mendapat tiket VIP gratis berikut dengan akomodasinya, saya langsung membuka Traveloka untuk mencari tiket pesawat. Ya walaupun terdapat drama setelahnya sih, namun pada intinya saya mengiyakan tawaran Lusy.

Bagaimana bisa mendapat tiket gratis?

Jadi seperti ini, temannya Lusy bernama Ka Ingrid, ia mengikuti Jazz Gunung Bromo 2017, lalu menang dalam kontes foto yang diadakan oleh pihak Jazz Gunung. Hadiah berupa tiket VIP tiga hari + penginapan di tenda selama tiga hari pula untuk dua orang. Bayangkan, menikmati Bromo di tenda sambil disenandungkan syahdunya Jazz, siapa yang tidak mau? Namun, sangat disayangkan ka Ingrid sudah membeli tiket ke Bangkok sehingga tiket untuk dua orang tersebut diberikan kepada Lusy. Syukur Puji Tuhan, Lusy mengajak saya! Ah! ..aku diberkati sepanjang hidupku diberkati ! Terima kasih juga kepada Ingrid, Tuhan menyertai 🙂

27 July 2018

Hari itu saya berhasil menghasut Lusy untuk pergi ke Bandara Soeta dari Karawaci (kos saya) dengan menggunakan motor lalu parkir inap di sana selama 3 hari . Dengan iming-iming harga yang berbeda jauh jika kami menggunakan transportasi online. Jelas jauh, parkir inap motor di bandara hanya lima ribu per 1×24 jam, sedangkan jika kami menggunakan transportasi online bisa lebih dari dua ratus ribu untuk pulang-pergi.
Sekitar pukul 6 pagi, terbanglah kami menuju Surabaya. Setengah 8 kami tiba di Bandara Juanda Surabaya dan telah ditunggu oleh mas Rino yang akan menjadi LO kami selama 3 hari ke depan. Ternyata kami tidak hanya berdua, kami bersama dengan rombongan dari Bandung yang terdiri dari 2 bapak-bapak dan 5 orang ibu-ibu. Terkejutnya saya adalah mereka sudah langganan ke Jazz Gunung, dan tahun ini merupakan kali ketiga mereka. Wow, saya kagum sekali, meskipun tidak lagi berusia 20 atau 30-an tapi mereka pede saja jauh-jauh dari Bandung untuk menonton konser musik.
Singkat cerita sebelum sampai di Bromo, kami serombongan mampir di Rawon Ngulig Probolinggo. Sampai di sana, saya sangat terkejut sekali bertemu dengan sahabat SMA. Vivi namanya, kini ia seorang pramugari Garuda. Sudah lama sekali tidak bertemu, dan sekali bertemu, kami bertemu di Probolinggo. Sampai jumpa lagi, Vivi !

Sekitar pukul 3 sore sampailah kami di Jiwa Jawa Resort.

Ah udara ini yang saya rindukan
Bromo, kita bertemu kembali

Senang sekali rasanya, tidak seperti jika saya naik gunung, yang harus repot dengan urusan tenda (ya walaupun bukan saya juga yang biasanya membangun tenda) namun kini tenda telah siap, bantal selimut telah tesusun rapih lalu hanya beberapa langkah dari tenda kami, terdapat kamar mandi yang bersih berikut dengan air panasnya.
Sekitar pukul 5 sore, acara Jazz Gunung pun dimulai, venue Jazz Gunung pun sangat dekat dari tenda kami, kami hanya perlu menaiki tangga, dan sampailah kami di amfiteater Jiwa Jawa Resort.

Saya miss di dua penampilan pertama di hari pertama. Kemudian saya disuguhkan dengan penampilan dari Jungle by Night, band dari Amsterdam Belanda. Jelas mereka membuat jamaah aljazziyah (begitu sebutan untuk penonton Jazz Gunung) terpana. Hmm, sulit untuk dijelaskan, genre music mereka lebih campuran dari jazz, funk, afrobeat. Sangat menghibur, menyajikan nuansa yang berbeda di Jazz Gunung tahun ini. Laki-laki berjumlah delapan orang dengan skill yang luar biasa dan terlihat masih muda, jelas ini menjadi poin plus bagi saya (hihi). Tohpati Bertiga benar-benar bertiga (guitar, bass, dan drum), kali ini mereka mambawakan lagu-lagu pop dengan sentuhan jazzy (tapi ada yang cenderung ke rock juga. Ah, saya memang bukan pakarnya bermusik, tidak begitu paham) Lanjut ke penampilan Barry Likumahuwa. Lagu-lagu Barry dari band sebelumnya yaitu BLP sudah sering saya dengar, jadi beberapa saya paham pattern yang ia bawakan malam itu. Namun ya jelas tak perlu diragukan lagi penampilannya, menurut saya ini menjadi puncak di hari pertama Jazz Gunung 2018, sangat berkelas. Di penghujung acara kami dibawa ke lagu-lagu romantis 80-an dari Andre Hehanusa. Tak begitu banyak yang saya tahu, namun beliau berhasil membawa penonton bernostalgia (khususnya 50 tahun ke atas)

Malam itu Bromo semakin dingin
Berusaha untuk tidur pun tak cukup
Saya harus menjaga tubuh ini tetap hangat dengan beberapa lapis pakaian

28 July 2018

Rencana tinggalah rencana. Menikmati sunrise Bromo saat itu, ah lupakanlah. Mungkin karena tenda yang terlalu nyaman, kami baru terjaga di pukul setengah 6 pagi. Karena kami hanya berdua, kami putuskan untuk eksplorasi Bromo dengan ojek. Ya, beruntunglah anda yang pergi serombongan besar, karena anda dapat naik Jeep dengan aman dan nyaman. Tapi bagi kami yang hanya berdua, sudahlah naik ojek saja. (Saya baru sadar saya belum pernah naik Jeep di Bromo, tahun lalu karena hanya bertiga dengan Rina dan Anggi, kami naik ojek. Tahun ini hanya berdua, ya mau tak mau.) Namun menggunakan ojek di Bromo, sangat saya rekomendasikan bagi anda, rasakan sensasinya.

Kawah Bromo yang selalu Instagramable, tak peduli pasirnya, bau kotoran kudanya, dan ramainya orang-orang yang berkunjung, kawah Bromo tetap menawan bagi saya. Saran bagi anda, kawah Bromo sangatlah panjang, jika anda baik-baik saja dengan ketinggian, berjalanlah lebih jauh di bibir kawah, anda akan menemukan tempat yang lebih bagus di kawah Bromo, dibanding hanya diam di tangga terakhir dan berkumpul di sana.
Lanjut ke bukit King-Kong titik menikmati Sunrise Bromo. Ya kami salah, menuju bukit King-Kong melalui Seruni adalah ide yang kurang bagus. Butuh hampir 1 jam dari Seruni menuju bukit King-Kong, sementara kami hanya membawa kurang dari 750ml air ditambah matahari yang semakin dekat dengan kepala kami. Tapi ya sudahlah, nasi sudah menjadi uduk.

Sorenya kami melanjutkan hari kedua Jazz Gunung 2018.

Performer malam itu ialah Ring of Fire , Surabaya All Stars, Bintang Indrianto, dan Barasuara. Semuanya ciamik, memukau dan jelas tak dapat saya siratkan. Tidak hanya Jazz, beragam genre seperti pop, funk, reggae, folk, etnik, hingga dangdut semuanya dipadukan secara jenius oleh ahlinya. Entah mengapa di hari kedua saya semakin emosional. Menikmati semua suguhan ini membuat saya sangat terharu. Sangat indah. Bintang Indrianto dengan “Soul of Bromo” nya, lagu-lagu yang dibawakan oleh Syahrani bersama Surabaya All Star, belum lagi para kaum masa kini yang membawakan lagu dengan lirik bermakna kuat yaitu Barasuara.

Dan akhirnya…

29 Juli 2018

Air mata sudah tak terbendung lagi…

Spesial Jazz Gunung tahun ini ialah hari ketiga diselenggarakan di pagi hari. Sekitar pukul 5.30 pagi sudah mulai terdengar suara dari Bonita, buru-buru kami langsung ke venue. Sangat syahdu sekali hingga saya tak dapat menahan air mata. Entahlah, saat itu saya merasa sangat diberkati sekali! Ditambah dengan lagu yang dibawakan Bonita and The Hus Band, yang berjudul God Came To Me yang diciptakan oleh Adoy, gitaris dan suami dari Bonita. Dalam lagu ini ia menceritakan pengalaman mengenai perjumpaan pribadinya dengan Tuhan. Tidak diceritakan secara spesifik bagaimana perjumpaan yang dia alami. Visual, audio, atau peraasaan kah, tak masalah bagi saya, Tuhan punya caranya sendiri.
“.. Nothing special with Me coming to you, I’m always here with you.” Liriknya sangat sederhana, namun manis :’)
Dilanjutkan penampilan romantis dari Endah n Rhesa, Bianglala Voice, dan Nona Ria. Semuanya ialah accoustic performance. Jazz Gunung paham benar cara menyajikan suguhan yang terbaik bagi para penikmat musik. Di hari ketiga mereka ingin agar jamaah aljazziyah tak serta merta fokus menikmati musik yang full band tapi menikmati sajian Bromo yang kian menawan yang tepat berada di belakang stage seiring dengan sinar matahari yang menyinari pesonanya sambil disenandungkan dengan accoustic performance. Menurut saya ini sajian terbaik dibanding private concert di hotel bintang 5. Ahh.. Praise the Lord!
Sekitar pukul 10 pagi berakhirlah acara Jazz Gunung 2018. Meninggalkan Bromo munuju Bandara Juanda lalu ke Soetta, lalu kami kembali pada rutinitas tanpa mau melupakan sedikit pun tentang Bromo dan Jazz Gunung.

Lagi-lagi Jazz Gunung meninggalkan kesan manis bagi saya. Saya begitu sangat menikmati bagaimana mereka membangun suasana yang berbeda dalam menikmati musik yang berkelas. Lokasi , venue yang unik, pemilihan para musisi, audio yang berkualitas karya anak bangsa, pencahayaan yang tak kalah dari konser musik di tengah kota, dekorasi yang berbeda tiap tahunnya, dan bonus tahun ini adalah menikmati music di pagi hari. Semuanya epic, semuanya sempurna dalam pandangan saya. Tak ada provokasi, perbedaan prinsip, semuanya kompak melupakan ego masing-masing dan menyatu dalam musik.

Pemaknaan Jazz saat ini memang telah bergeser. Sudah terlalu banyak inovasi pada genre Jazz. Namun, sama seperti tahun sebelumnya saya berharap Jazz Gunung tetap berprinsip dengan mendatangkan musisi dengan musikalitas yang berkelas, bukan hanya mengenai popularitas. Indonesia memiliki banyak musisi indie dengan skill yang luar biasa, Jazz Gunung dapat menjadi salah satu tempat untuk mereka dapat terpelihara.
Terima kasih Jazz Gunung, terima kasih telah menginspirasi.
Selamat satu Jazzawarsa.

Kali ini dengan mantap saya katakan, sampai bertemu di Jazz Gunung 2019!

Continue Reading

Coba Berpikir

Saya yang sudah terlalu jatuh cinta dengannya
Terlalu menganggap beruntungnya saya akan semua yang telah disajikan
Saya yang sudah jatuh hati, sampai sampai hati ini susah berpaling dari dirinya
Terlalu menganggap bahwa dirinya sudah beri segalanya namun raga ini sulit sekali disadarkan

Namun saya bisa apa sih?
Saya tahu apa sih?

Seorang pengamat dari kejauhan
​yang terlalu takut bahkan untuk berada di tepian pusarannya
Seorang penikmat belaka
yang terlalu apatis untuk terlibat lebih jauh

Hamsad Rangkuti dalam bukunya yang berjudul Ketika Lampu Berwarna Merah menuliskan seperti ini,
Apakah mungkin pedagang abu gosok mengerti soal-soal politik? Apa mungkin pedagang abu gosok terpikir tentang martabat bangsa?
Hmm, ini cukup membuat saya berpikir. Ketika sekelompok orang sibuk berjuang keras untuk membangun bangsa ini, menyelesaikan persoalan ini itu, namun di sisi lain ada yang sedang berjuang bertahan untuk hidup. Tahu apa mereka tentang martabat bangsa, dapat membaringkan kepala dengan tenang saja sudah untung bagi mereka. Buku Ketika Lampu Berwarna Merah menceritakan kehidupan anak-anak yang hidup di jalanan Jakarta. Bermodalkan kata “ibukota”, mereka menggantungkan hidupnya di Jakarta. Hidup dengan mimpi-mimpi yang dibuat oleh Jakarta, tanpa tahu apa yang Jakarta juga dapat berikan yang bisa saja mengancam keberadaan mereka. Di sini Hamsad Rangkuti mendeskripsikan secara mendetail bagaimana tokoh-tokoh tersebut menjadi pengemis hingga semua perjuangan dari tokoh-tokoh tersebut dijabarkan secara mendetail oleh penulis. Mereka pun sebenarnya melawan keadaan, berusaha untuk keluar, namun bagaimana mau keluar menemukan celahnya saja pun sulit. Ya hingga yang tadinya situasi menjadi nasib bagi mereka. Kemudian siapa yang berani bertanggung jawab? Negara?

Rasanya memang nikmat sekali mngkritik sana sini. Memang nikmat sekali untuk berkata
“Perjuangkan hak rakyat!”
“Dasar! Pemerintah ‘ga bener!”
“Ganti presiden!”
​”Korupsi tuh!”
Apalagi dengan ‘segudang’ tempat untuk beraspirasi, jika dikiritisi, ya, pergi saja tanpa permisi.

Inilah yang menggangu pikiran saya, saya yang tahu lalu saya bisa buat apa?
Ya benar saya berpikir, tapi raga ini tidak cukup sanggup untuk mengeksekusinya, ya buat apa? Hmm..

#mikirsebelumtidur

Continue Reading

​Sumbing – 3371 mdpl

Ya, akhirnya penantian 2 tahun terselesaikan juga. Masih teringat jelas di benak saya bagaimana Merbabu menunjukkan pesonanya tepat di depan mata saya. Gulungan awan, Sabana, kabut, sunrise, udara, dan apapun mengenai Merbabu bagai candu bagi saya (astaga,saya terharu). Merbabu adalah gunung pertama yang berhasil membuat saya jatuh cinta akan puncak Indonesia. Cantik sekali (seketika saya kembali kepada dua tahun lalu dimana saya menikmati semua yang disajikan Merbabu kepada saya, ah) Inilah yang membuat saya selama dua tahun seperti orang kebingungan dan panik, mencari semua orang yang juga tertarik akan puncak-puncak Indonesia. Hingga waktunya pun tiba, tahun inilah waktunya. Kalau kata orang sih “Mountain are calling, I must go”
#ciyegitu

Tidak ada yang kebetulan
Saya kenal dia , dia kenal dia, ternyata dia ini dan ternyata dia itu. Bermula dari saya Bernie (baru dikenalin), Bimo (baru kenal yang ternyata anak UMN juga), dan Anggie (my beloved best friend! kiss!), lalu Lusy (temen gereja, yang belum deket), ditambah Tari (temen gereja, yang baru pulang dari negeri orang), disusul ka Prima (temen gereja baru kenal, domisili di Melbourne).  Semuanya ya terjadi begitu saja, Maha Kuasa telah menggariskannya untuk kami. Sampailah pada keputusan kami untuk memilih Sumbing atau Sumbing yang telah memilih (?)

26/04/18
Perjalanan dimulai dari stasiun Rawa Buntu Serpong ke Pasar Senen. Sekitar pukul 22.30 kami berangkat dari stasiun Pasar Senen menuju stasiun Purwokerto, menggunakan kereta ekonomi seharga Rp140.000 yang telah kami pesan satu bulan sebelumnya. Setelah melalui drama di awal perjalanan karena hampir ketinggalan kereta, berangkatlah kami menuju stasiun Purwekorto. Perjalanan berlangsung selama kurang lebih 6 jam.

27/4/18
Tibalah kami di stasiun Purwokerto di pukul 4 pagi.
Pendakian Sumbing kali ini kami menggunakan jalur Kaliangkrik. Melalui studi literatur yang telah dilakukan, walau jalur ini lebih jauh namun hal ini tidak dapat membuat kami mengelak, Kaliangkrik memiliki banyak sekali pemandangan bagus (bonus) dan terdapat mata air di jalur ini.
Butuh sekitar 4 jam lagi untuk kami dapat sampai ke pendakian jalur Kaliangkrik dari stasiun Purwokerto. Kami menyewa sebuah mobil dari stasiun menuju Kaliangkrik denga harga Rp750.000. Sekitar pukul 8 pagi kami sampai di basecamp Kaliangkrik. Pendakian sudah di depan mata, kami perlu beradaptasi dengan Kaliangkrik. Kaliangkrik pun menyambut kami dengan hangatnya, cerah sekali cuaca hari itu. Di basecamp hanya ada rombongan kami, jadi kami dapat bersantai ria. Mulai dari sarapan, mengobrol, mencicipi kopi ka prima dan mengagumi seperangkat peralatan kopinya yang lengkap, membagi beban carrier, dan yang paling penting kami bisa sampai membuat nasi goreng di dapur basecamp. Alhasil kami memiliki bekal untuk makan siang di pendakian kami siang itu. Terima kasih kepada chef Tari.
Semua telah rapih, tekad dan niat kami telah bulat, saatnya kami memulai pendakian di pukul 10.30
“Sumbing..bing..bing..!”

Seperti jalur pada umumnya, pendakian diawali dengan menyisir lahan penduduk lokal. Sangat rapih dan indah. Maklum, sudah jarang sekali melihat yang seperti itu di Tangerang, tempat saya berdomsili saat ini. Pukul 12.15 sampailah kami di pos 1. Melanjutkan ke pos 2 memang tidak gampang. Trek menanjak tanpa ampun. Melihat Ka Prima yang sudah tidak tahan lagi, karena otonya yang “ketarik” kami pun harus berhenti dan istirahat makan siang sebelum mencapai pos 2.  Terima kasih kepada Bimo yang telah membantu memijit-mijit ka Prima wkwk, sangat membantu. Dari pos 2 ke pos 3 tidak seberat pos sebelumnya. Jalanan lebih banyak memutar dan landai. Belum lagi ditambah dengan pemandangan Sumbing yang .. indah? Cantik? Mempesona? apa yang harus saya tuliskan untuk menggambarkannya. Rasanya semua terasa lebih dari kata-kata itu.
Tak jarang kami berhenti lama demi menikmati suguhan Sumbing.

Tariklah napas sedalam-dalamnya,
Biarkan semua panca indera merasakannya
Biarkan setiap nya merasakan pesonanya

Hari mulai gelap, mata mulai sulit untuk melihat, apalagi tenaga yang sudah terkuras selama 6 jam lebih, namun pos 4 belum terlhat pula. Hingga kami nyaris saja kehilangan arah. Jujur saja, itu sudah benar-benar di ambang batas saya, yang saya ingat saya hanya diam tidak mampu berkata banyak dan melihat ke mana sepatu Bernie melangkah, karena selebihnya tak jelas di pandangan saya. Melihat ke atas atau ke sekeliling pun sudah tak sanggup, dingin dan gelap. Hingga terdengar teriak Bimo “Pos 4!”. Hhh.. akhirnya saya dapat bernapas lega.
Sekitar pukul 9 malam kami mendirikan tenda di tengah dinginnya Sumbing malam itu. Hanya ada tenda kami di sana, sampai tengah malam barulah ada tenda lain. Buru-buru kami memasak mie instant, saya pun makan apapun yang tersedia untuk melawan dingin yang hebat malam itu. Tidak seperti bayangan saya saat di Merbabu (maklum saya hanya baru ke Merbabu dan Sumbing ini) dimana terdapat Sabana luas tempat untuk bermalam yang nyaman, pos terakhir Sumbing via Kaliangkrik tidak luas. Bahkan kami mendirikan tenda di tempat yang miring, sampai-sampai tak sadar kami merosot turun saat tidur.

28/4/18
Summit Attack
Rencana memburu Sunrise saat di puncak pun tinggalah sebuah wacana. Namun rasanya tak perlu pula menyesal. Dari pos 4 pun kami dapat menyaksikan Sunrise yang menakjubkan. Inilah klimaks yang saya cari saat pendakian.

dimana saatnya menunggu bukan ditunggu
dimana setiap detik begitu memuaskan candu
namun kembali membuat candu

Setelah puas menikmati matahari terbit,  matahari pulalah yang membawa kami untuk melanjutkan untuk ke puncak. Sekitar Pukul 6.40 kami mulai penyelesaian pendakian Sumbing ini. Medan cukup sulit dan tak jarang kabut melewati kami, namun tak memutuskan langkah kaki kami. Setelah 2 jam perjalanan sampailah kami kepada Puncak Selo Konten, Puncak pertama Sumbing via Kaliangkrik. Tentu tak puas hanya dengan puncak pertama, kami lanjutkan ke puncak Sumbing lainnya.  Kurang dari setengah jam perjalanan, sampailah kami di Puncak Sejati 3371 mdpl. Semua lega, terasa begitu cepat berlalu. Indah sekali. Melihat indahnya Indonesia dari puncak Sumbing. Ucapan syukur yang tiada henti bagi Sang Pencipta yang telah berkenan atas perjalanan kami.

Klise memang, ada terlalu banyak alasan untuk bersyukur. Namun saya terlebih bersyukur oleh karena syukur ini saya naikkan karena kejadian alam Indonesia yang dahsyat yang sungguh di luar batas nalar ini yang saya saksikan jelas di depan mata.

Continue Reading

Jazz Gunung Bromo 2017

Sebelum lupa,
Tepat di tanggal 17 Agustus 2017 kemarin saya bersama teman-teman memutuskan untuk melarikan diri sejenak dari rutinitas dan pergi ke Bromo. Spesial Bromo kali ini adalah Jazz Gunung Bromo 2017.

​16 Agustus 2017
Bermodalkan nekad dan niat yang kuat tanpa diseimbangkan dengan persiapan yang matang kami pun berangkat. Perjalanan kami lakukan bertiga saja bersama Anggie dan Rina menggunakan kereta dari Pasar Senen menuju stasiun Pasar Turi Surabaya. Perjalanan kami dibuka dengan kedatangan Anggie yang datang tepat di pukul 14.00, tepat keberangkatan kereta di pukul 14.00 juga. Luar biasa paniknya! Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih 11 jam. Kami memakai kereta ekonomi dan ini pertama kalinya perjalanan jauh saya menggunakan kereta. Memang sangat murah menggunakan kereta ekonomi, namun siap-siap saja lutut bertemu lutut. Rasanya langka sekali untuk dapat meluruskan kaki.

17 Agustus 2017
Singkat cerita sampailah kami di Pasar Turi di pukul 02.00 WIB. Kami harus melanjutkan perjalanan ke Probolinggo dengan kereta di stasiun lainnya. Oleh karena itu, kami pergi ke stasiun Gubeng dengan taksi agar dapat melanjutkan kereta ke stasiun Probolinggo. Namun kereta pagi saat itu di pukul 04.30, maka kami menunggu sekitar dua jam di stasiun Gubeng. Di stasiun tidak sepi, akan ada wisatawan lokal dengan tas-tas besar lainnya yang sudah duduk di depan stasiun menunggu kereta mereka. Dari stasiun Gubeng ke Probolinggo memakan waktu kurang lebih 3 jam. Jujur saja, kami tidak tahu kalau penginapan kami masih sangat jauh dengan Bromo. Ya benarlah, penginapan kami terletak di Probolinggo yang dimana kami masih membutuhkan 1 jam lebih hingga ke Bromo.
Sampai di Probolinggo pukul 8 pagi tanggal 17 Agustus tepat di hari kemerdekaan RI. Kami pikir kami akan mengikuti upacara bendera dan sebagainya. Namun karena kelelahan kami pun merapatkan barisan lalu tidur.
Terbangun karena lapar, saatnya kami eksplor Probolinggo. Luar biasa panas di Probolinggo. Berbekal “ngotot”, kami pun berhasil menego penyewaan mobil untuk dua hari seharga Rp600.000 untuk keliling Probolinggo dan Bromo.
Hari itu pun kami habiskan bertiga ke sebuah tempat bermain di BeeJay Bakau Resort Probolinggo. Sebuah Resort yang cukup luas dengan banyak sekali tempat bermain di dalamnya. Menariknya, di tempat ini banyak sekali dibuat ..hmm semacam karya seni yang terbuat dari barang bekas dan terdapat hutan bakau pula di sana. Tiket masuknya pun tidak begitu mahal sekitar 35 ribu untuk menikmati seluruh taman bermain hingga hutan bakau. Malamnya kami merayakan ulang tahun Anggie di penginapan. Selamat bertambah usia Anggita Mahardika, doa yang terbaik untuk Anggie !

18 Agustus 2017
Subuhnya kami bangun demi mengejar matahari terbit di Bromo. Pukul 03.00 kami beranjak dari Probolinggo. Sekitar pukul 04.00 kami pun sampai di Bromo. Sudah terlalu biasa ke Bromo menggunakan Jeep, kami mencoba memanggil ojek untuk antar keliling Bromo! Bayangkan Bromo dengan lautan pasir kami tempuh dengan motor. Mengerikan! 1 ojek kami sewa 100ribu. Mahal memang, namun sensasinya luar biasa.
Puas jalan-jalan di Bromo, kami turun ke Jiwa Jawa Resort tempat Jazz Gunung diadakan. Yak! Tibalah acara yang ditunggu-tunggu. Pukul 14.00 WIB penukaran tiket. Lalu acara dimulai pukul 15.00 (seharusnya), namun mundur hingga sekitar pukul 16.30 WIB. Jiwa Jawa Resort bagus sekali. Venue-nya outdoor, stage berada di bawah, kursi penonton tersusun ke atas dan kami duduk di kelas festival. Maupun kelas festival, saya pikir tempat duduk kami cukup oke untuk menikmati acara ini.
Jazz Gunung tahun ini dibuka dengan penampilan dari Surabaya All Star. Beberapa lagu dengan arransemen yang baru mereka bawakan dengan sangat apik. Mulai dari lagu lawas hingga lagu masa kini bahkan dangdut. Maaf, saya tidak fasih dalam mengomentari musik, namun Surabaya All Star sangat baik sebagai pembuka Jazz Gunung di hari pertama. Dilanjutkan dengan penampilan dari Paul McCandless & Charged Particles. Tidak tahu pasti dari mana band ini, namun dari telinga awam saya, penampilan dari band ini, ya, cukup baik. Kemudian acara break selama satu jam. Kami membeli cemilan yang dijual di depan Jiwa Jawa Resort. Setelah break, berikutnya penampilan dari Monita Tahalea yang sangat syahdu. Saya tahu benar bahwa Monita membawakan lagu dengan syair yang diambil dari ayat Alkitab, sangat menarik! Semakin malam Bromo pun semakin dingin, nikmat sekali rasanya. Lalu yang satu ini sangat menghipnotis, yaitu penampilan dari Dewa Budjana. Luar biasa, saya sungguh terpana, karena baru kali ini saya menyaksikan penampilan Dewa Budjana tanpa bersama Gigi. Saya sampai menutup mata demi menikmati layer demi layer dari setiap instrument yang dimainkan, sangat berkelas. Tak terucapkan rasanya saat menikmati bagaimana sensasi penampilan berkelas dari Dewa Budjana ini di ketinggian Bromo. Berlebihankah? Namun memang itu yang terjadi.
Kemudian Jazz Gunung di hari pertama ditutup dengan penampilan dari band yang paling saya sukai di Indonesia yaitu Maliq and D’Essential. Ya, semua pun tahu bagaimana performance dari Maliq, arransemen yang tidak perlu diragukan lagi. Maliq tahu bagaimana membuat sebuah performance yang dapat menghibur dan membuat penonton puas. Tak hanya enak didengar, namun Maliq memikirkan bagaimana aksi panggung mereka. Sangat menghibur.
Waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB dan selesailah Jazz Gunung 2017 hari pertama. Oleh karena kami akan sibuk di hari Seninnya dan kami menggunakan kereta, jadi kami hanya mengikuti event ini di hari pertama. Esoknya kami berangkat dari Probolinggo ke Surabaya. Main sebentar di Surabaya lalu kami pulang dari Stasiun Pasar Turi menuju stasiun Pasar Senen Jakarta selama kurang lebih 11 jam.

Tentu saja dapat berlibur dengan teman dekat merupakan kebahagiaan tersendiri bagi saya, saya pun menjadi sangat antusias dengan acara ini. Sebuah pengalaman berbeda dimana saya dapat menikmati syahdunya jazz di ketinggian bromo yang dingin, dimana kami penikmat musik didekatkan dengan alam. Jamaah al-Jazziah sebutan bagi kami penonton Jazz Gunung. Saya berharap Jazz Gunung di tahun mendatang tetap berprinsip pada event jazz dengan mendatangkan performer yang benar-benar ber-genre jazz.

Sampai jumpa di Jazz Gunung 2018! (mungkin)

Continue Reading

Masuk dalam Ketidakonsistenan

Saya teringat sekitar 3 tahun yang lalu, seseorang yang berasal dari Spanyol pernah mengirimkan sebuah pesan di Facebook. Ia mengatakan bahwa, apakah benar “Sandria” adalah nama anda? Ya, saya bilang itu nama saya. Kemudian ia berkata bahwa Sandria adalah nama keluarganya, mungkin semacam nama marga atau nama keluarga yang dipakai turun temurun, saya tidak begitu paham. Jelas saja, setelah saya “stalking” keluarganya melalui yang ia unggah, semuanya menggunakan Sandria di bagian belakang nama mereka. Menyenangkan bagi saya, karena orang tua saya pun tidak memiliki alasan khusus mengapa menggunakan nama Sandria. Namun jelas di bagian depan yaitu Vicky, berasal dari kata Victory atau kemenangan. Dan saya bangga akan ini. Ya, walaupun tak jarang orang yang tidak langsung bertemu saya berkata “Baik, terima kasih Pak Vicky, atau Selamat pagi Pak”

Beberapa minggu yang lalu, khotbah di gereja dalam dua minggu berturut-turut sepertinya sangat masuk ke dalam otak saya lalu diproses dengan sangat hati-hati sehingga masuk dalam sanubari ini. Baiklah, berlebihan. Namun, ya memang benar, sangat mengukuhkan. Bahkan saat menulis tulisan ini pun, saya semakin diyakinkan.
Salah satu hal yang paling konsisten di dunia ini adalah hidup yang penuh dengan ketidakonsistenan. Ya, kita tahu bersama bahwa kondisi saat ini rasanya sulit sekali ditebak. Beruntungnya saya, bahwa saya bukanlah seorang perencana jangka panjang. Saya merasa bahwa saya cukup terlatih untuk menghadapi kondisi yang fluktuatif. Dibandingkan saya harus merecanakan jangka panjang. Entahlah, saya pikir saya terlalu realistis dan idealis. Salahkah?
Dalam kotbah tersebut saya malah disuruh masuk kepada ketidakonstenan dunia ini. Oleh karena kejadian ku dahsyat dan ajaib, inilah yang membuat saya semakin yakin bahwa saya diciptakan bukan hanya kepada perkara-perkara biasa namun mampu masuk ke dalam ketidakonsistenan.
Terlepas dari pada keberanian kita untuk masuk pada ketidakonsistenan, Persiapan sangatlah diperlukan. Ada sebuah rumus yang sejauh ini cukup mudah diterima oleh pemikiran saya dan sangat relevan pada kehidupan saya saat ini. Persiapan + Kesempatan = Sukses! Atau terbilangnya, kesuksesan adalah saat persiapan bertemu dengan kesempatan. Kesempatan tidak jelas kapan datangnya. Lalu apa yang harus dilakukan selagi menunggu kesempatan? Ya bersabar dan bertekun dalam persiapan. Hm, sepertinya inilah yang akan menjadi rumus kehidupan saya (wow, rumus kehidupan) untuk masuk dalam ketidakonsistenan. Sesuai dengan nama saya yang artinya kemenangan, saya pikir rumus ini dapat pakai agar arti tersebut benar-benar nyata dalam kehidupan saya.

Continue Reading

Jalan Pulang

Proses yang terjadi akhir- akhir ini membawa tangan saya untuk menuliskan hal yang sepertinya sedikit berbeda dari kebiasaan saya.
Baiklah
Jadi,
Setelah berputar-putar di Grame*dia. Pilihan saya jatuh kepada Jalan Pulang yang ditulis Maria Hartianingsih. Pertimbangan saya hanyalah, beliau merupakan seorang jurnalis senior dari Kompas. Entahlah apa yang ditulis di dalamnya, saya meyakini bahwa tulisan ini akan bermanfaat bagi saya.
Secara keseluruhan, dalam Jalan Pulang ini, Maria menceritakan perjalanan spiritualnya menuju Santiago de Compostela, Spanyol. Dalam proses perjalanan ziarahnya, penulis menemukan hal-hal yang yang sangat berkaitan dengan kehidupan. Kutipan-kutipan essay-nya pun dituliskan dalam buku ini, memberikan kesan penekanan yang mendalam kepada pembaca akan relevannya perjalanan ziarahnya terhadap kehidupan.

Buku ini memberikan kesan bagi saya, bahwa proses berjalan yang terlebih penting dari semuanya. Proses perjalananlah yang menjadikan kita. Seperti tidak ada gunanya manusia berencana dan terus berambisi sampai pada yang kita anggap sebagai kulminasi kehidupan,  jika kita tidak mau melalui jalannya. Saya ialah yang percaya bahwa Jalan telah dipersiapkan. Namun Ia memberi free will untuk memutuskan apakah perlu saya melalui jalan tersebut atau justru membuat jalan sendiri? Kepercayaanlah yang menuntun kita. Pertanyaan tentu akan selalu ada, namun menurut saya ada hal yang sepertinya tidak perlu dipertanyakan, karena mungkin memang tidak perlu kita ketahui atau memang tidak ada jawabannya. Setiap kita memiliki porsinya sendiri, dalam buku ini Maria mengatakan bahwa ada hal yang perlu kita ketahui, ada hal yang belum kita ketahui, namun ada pula hal yag tidak perlu diketahui. Semua memang penuh tanda tanya.

Waktu.
Kesadaran akan waktu yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Apakah saya berjalan terlalu lambat atau bahkan terlalu cepat? Bukan, lebih tepatnya apakah saya berjalan pada tempo yang tepat di kondisi yang tepat. Maria menuliskan bahwa, “Gejala yang kemudian muncul bukan lagi si besar memakan si kecil, tapi terutama si cepat memangsa si lambat, menyebabkan proses marjinalisasi terus melaju.” Hm. Semakin dipikir-pikir, menurut saya sepertinya bukan si cepat, namun si pejalan dengan tempo yang tepatlah yang akan menang. Ya, sepertinya.

Ya, ini semacam lukisan abstrak (?) Mungkin lebih kepada berbagai ekspresi yang saya keluarkan dalam lukisan ini. Entahlah, namun awal saya membuat sampai pada lukisan ini saya foto, semunya berasal dari ekspresi saya pribadi. Sejujurnya tidak begitu baik bagi saya secara visual, namun cukup menggambarkan ekspresi saya dan itu memuaskan bagi saya.
Continue Reading