´╗┐Sadar

Tidak terlalu penting, em.. tapi sepertinya layak untuk dibagikan. 

Saya sebenarnya lebih suka mendesain dengan mendengarkan musik tepat di telinga saya atau dengan menggunakan headset. Rasanya seperti hanya ada saya, musik, dan desain. Namun, 2 minggu belakangan ini, saya mencoba menantang diri saya untuk mendesain tanpa menggunakan headset. Alhasil semua masuk ke ke telinga saya. Pertama, tentu saja sangat mengganggu dan pekerjaan menjadi lebih lama dari biasanya. Namun belakangan saya sudah dapat membiasakan namun ya pekerjaan menjadi melambat. Menarik, saat saya membuka headset dan mencoba untuk tetap sadar akan sekitar, ada banyak hal yang saya dapatkan. Seperti di kantor, saya dapat mengetahui jenis musik apa yang mereka sukai tanpa perlu saya bertanya. Seorang menyukai musik dangdut dan selalu menyanyikan apa yang ia dengar. Seorang yang lain selalu berkata “oke baiklah”. Adapun yang lain, saya dapat paham sekitar jam berapa biasanya ia datang ataupun tiap berapa jam sekali seorang yang lain pergi ke toilet. Lalu ada pula seorang ibu yang selalu menirukan perkataan anaknya yang masih kecil di kantor. Bahkan saya dapat memahami jika teman kantor saya yang lain sedang terlihat pusing dengan pekerjaannya hanya dengan gerak-geriknya yang sedikit.
Atau mungkin saat di coffee shop. 
Saya dapat mendengarkan sekumpulan anak SMA yang sedang berbicara “gue tu ya kadang bingung sendiri, kalo tulis contekan di kertas, udah gue tulis nih, yah ujung-ujung nya gue hapal, jadi buat apa coba gue buat contekan.” 
Atau ada yang sedang video call dengan pacar bulenya “Here is my coffee, bae!” Atau bahkan gerak gerik seorang satpam coffee shop yang menggelikan menurut saya.  Dan percakapan seorang dengan temannya di telepon yang akan datang dr Aussie “EH ! pas lu pulang kita dugem yuk, tapi lu yang bayar lah. Kan lu yg udah kerja.”
Lalu sekumpulan oma-oma membicarakan hal seperti ini (ini serius), “Ya semuanya kembali kepada Tuhan lah ya.”
Kemudian di ujung mata saya, orang sebelah saya seperti menengok ke arah kanan dan kirinya seakan hendak memillih antara saya atau di sebelah kirinya. Ternyata ia ingin menitipkan laptopnya karena mau ke toilet dan ia menitipkan ke saya. Setelah saya lihat, ternyata di sebelah kirinya sedang sibuk dengan pekerjaanya sambil memakai headset di telinganya.

Hm, kadang, kita perlu melihat sekeliling, ya.. untuk sekedar menjadi hiburan bagi kita atau lebih baik lagi menjadi pembelajaran. Bukan bermaksud untuk kepo, namun lebih ke sadar akan sekitar.​​

Picture

Ya, saya telah memaafkan barista yang telah mengubah Vicky menjadi Ficay.
“atas nama siapa ya?”
“Vicky mba.. Ve Ii Ce Ka Ye ” *spelling sejelas-jelasnya
“oke”

Continue Reading

Telat jatuh cinta

​Menyelesaikan liburan yang masih menggantung, setelah berada di Lampung selama 2 minggu saya memutuskan untuk ikut ke Salatiga, Jawa Tengah bersama kakak saya. Walaupun sebelumnya pernah berkunjung di Salatiga, namun baru kali ini saya benar-benar menikmati Salatiga. Kota kecil dengan cuaca yang sejuk dan memiliki banyak sekali tempat nongkrong yang asyhiik. Itulah kesan saya selama kurang lebih dua minggu di sana. Tidak seperti tempat nongkrong ataupun kafe di daerah Serpong atau Jakarta yang berada dalam ruko, tempat asik di sana berada dalam rumah yang dijadikan tempat makan, sehingga menimbulkan pengalaman yang berbeda bagi saya. 

OK, lupakan sejenak mengenai kota kecil yang menenangkan ini. Mari kita fokus ke dua hari sebelum saya kembali lagi ke Serpong. Gunung Merbabu. Ya, disanalah saya mengakhiri liburan singkat ini. Namun tidak akan pernah hilang di benak saya. Bagaimana keindahan Merbabu telah membuat saya seakan terhipnotis. Ini adalah kali pertama bagi saya mendaki gunung dan terima kasih Merbabu, telah membuat kesan pertama yang luar biasa akan mendaki. Baiklah, saya terlalu bersemangat sehingga saya lupa menceritakan perjalanan ini dari awal.

22/7/2016
Pendakian saya lakukan bersama 6 orang lainnya. Sehingga jumlahnya ganjil, bersama saya menjadi 7. Dua orang laki-laki dan sisanya perempuan. Semuanya ialah teman kakak saya. Karena pendakian ini kami tempuh dari jalur Selo maka perjalanan kami mulai dari Salatiga menuju Boyolali. Salatiga menuju Selo ditempuh sekitar satu setengah jam lebih menggunakan motor dari pukul setengah 2 pagi. Perjalanan yang panjang, dingin, dan gelap. Tibalah kami di desa Selo. Kami memilih jalur pendakian Selo Baru karena dilihat dari rutenya akan lebih cepat sampai ke Sabana dibanding jalur Selo lama. Menurut orang di sana pun kami akan lebih banyak mendapatkan ‘bonus’ jika melewati Selo Baru. Kami beristirahat sampai menunggu matahari terbit di basecamp. Hingga sekitar pukul 9 pagi, kami memulai pendakian. Karena saya pemula, jadi saya membawa keril yang kecil, wah..menyenangkan.

Sebagai pendakian pertama saya, saya ngeri melihat track ini. Seringkali licin dan sangat miring. Dari awal kami sudah memutuskan bahwa perjalanan kami ialah santai sehingga tak perlu diburu-buru. Oleh karena itu, kaki saya pun tidak bekerja terlalu keras, karena kami seringkali berhenti untuk istirahat. 
Singkat cerita melalui perjalanan yang panjang, dari pos 1, 2, dan 3, tibalah kami di Sabana 1. Teman kakak saya bilang, bahwa saya beruntung karena di pendakian pertama saya, cuacanya sangat cerah. Merbabu pun memperlihatkan kecantikannya dengan luar biasa sehingga semua jelas dalam pandangan saya. Kami pun mendirikan dua tenda dan bermalam di Sabana 1, lalu melanjutkan pendakian sampai ke puncak pada esok hari. 

23/7/2016
Paginya, sekitar pukul 5.30 saya memaksakan mata agar terbuka. Inilah sunrise pertama saya di atas gunung yang selama ini sudah lama saya inginkan. Akhirnya saya melihat sendiri, matahari yang seakan keluar dari persembunyiannya dan menampakan dirinya di hadapan saya, lalu berkata “whassssuuup!!!” ok. berlebihan.
Summit Attack!
Pukul 08.30 Walau rasanya terlalu siang untuk Summit Attack, tapi tak menyurutkan semangat kami untuk ke puncak. Sepertinya saya yang paling tidak sabar dalam pendakian ini. Saya selalu berada di depan, bahkan meninggalkan yang lain jauh di belakang saya. Karena bukan saya yang membawa air, dan saya sering berjalan sendiri, tidak jarang saya meminta air kepada pendaki lain. hm, inilah keuntungan menjadi wanita. Kalau kata orang bilang, sifat kita akan terlihat dalam pendakian. Ya, mungkin terlihatlah sifat saya di sini. Tidak sabar. 
Perjalanan sampai puncak membuat saya semakin tidak sabar. Kalian tahu ,bagaimana perpaduan antara rasa penasaran saya yang kuat ‘dicampur’ dengan menipisnya tenaga hingga napas yang sudah sepenggal, kemudian ‘dibubuhi’ dengan track yang semakin tidak menentu. Namun inilah yang saya suka, dimana jika saya bertemu dengan pendaki lain, rasanya seperti sudah lama kenal. Menyapa, mengajak ngobrol, dan tentunya memberikan semangat. Tidak jarang pula mereka berkata “semangat mbak, dikit lagi!’ Walaupun pada kenyataannya masih sekitar 1 atau 2 jam lagi.
​Akhirnya.
Sekitar pukul 11.00 siang. Sampailah saya di puncak Kenteng Songo 3142 mdpl. Sesampainya di sana saya langsung diberi ucapan selamat dari tim lain yang seringkali bertemu dengan tim kami. Rasanya seperti berada di dunia lain (ini tidak berlebihan, namun memang kenyataannya seperti itu menurut saya). Melihat samudera di atas langit dengan mata saya sendiri. Bahkan terlihat pula puncak-puncak dari gunung lain di sekitar Merbabu. Indah sekali! 

Tiada hentinya saya bersyukur, Tuhan memberkati pendakian pertama saya dengan memberikan cuaca yang bagus dan semua lancar hingga sampai pada puncak dan sekembalinya kami ke rumah kami masing-masing. Terlalu banyak keindahan Merbabu, hingga saya tidak sempat mengabadikan lewat foto, namun biarlah semuanya tersimpan dalam ingatan saya. Merbabu merupakan gunung pertama yang naiki, dan tentu rasanya saya ingin tahu bagaimana rasanya dengan gunung yang lain. hm saya ketagihan. Dalam hati saya berkata, “AH! saya telat jatuh cinta..”

Continue Reading