Salam

Terlintas untuk membuat tulisan dengan aksara Lampung. Masih ingat ‘sih tapi tetap harus bolak balik cek lagi di internet. Ya setelah 1 bulan berlalu, saya memutuskan untuk membiarkan siapapun dapat membacanya. Lengkapnya seperti ini:

Halo

apa kabar? baik? bosan? kesal? sedih? marah? senang? ya hidup memang begitu kan?

Semuanya berubah ya

Dimana lagi sekumpulan anak muda yang duduk sambil menikmati kopi dan rokok di tangannya ?

Atau mereka yang megabdikan malamnya untuk menikmati musik secara langsung?

Bicara sana sini, tertawa apa sajalah

Atau mereka si pemilik jiwa penyendiri tak asing dengan semua yang berubah ini karena ya mereka memang terbiasa untuk sendiri

dan tak pusing lagi untuk bertemu siapa dan menghadapi orang yang seperti apa hari ini

Apapun itu,

Ceritamu hari demi hari ini, kau yang membuatnya

Kau yang menentukan

Pagi ini kau memilih untuk membuka jendela, atau melihat jam, atau tetap membiarkan dirimu untuk tetap bermimpi?

saat menjelang malam, kau membiarkan dirimu larut dalam kesenangan atau kesedihan hari ini, atau mempersiapkan tidur terbaikmu untuk kesenangan dan kesedihan selanjutnya?

Karena akan selalu ada pilihan

Ini itu, sana sini, maju mundur

Apapun itu, kau yang paham

dan biarlah menjadi pilihan yang akan berbuah kelak

Salam

Continue Reading

Lembaran Baru di Buku Harian Lama

Beberapa waktu ini menuju ke belakang

Tak mudah memang

Seperti membuka lembaran baru di buku harian lama

Membawaku kembali ke ingatan lalu

Saat di mana jalan panjang yang tak tahu ujung

Aku yang masih dini senangnya mencari-cari

Kadang membawa ku ke asal

Namun cepat pergi ke mana

Bolak balik saja ternyata aku tak berpindah

Lembaran baru di buku harian lama

Cukup menyadarkan

Jangan lagi bergegas membingungkan

Sangat cepat namun hanya berputar

Selesaikan dahulu

Berbereslah setelahnya

Kemudian berpindah

Continue Reading

Seharusnya Hari Ini Saya Sudah Berada di Puncak Lawu

..dan seharusnya (lagi) minggu lalu saya telah berhasil menyelesaikan Half Marathon kedua saya.

Tangerang, 22 maret 2020

Sudah hampir satu bulan terakhir sejak pandemi ini akhirnya menggemparkan Indonesia. Awalnya ada yang bersikap tidak tau menau, biasa saja, bahkan sampai melecehkan wabah penyakit ini dengan segudang lelucuan. Haha! Akhirnya menyerah juga. Ya saya salah satunya.
Jujur saja sampai saat ini saya merasa diri kuat, saya berolahraga rutin, mengonsumsi makanan sehat , tidak merokok, dan bukan pecandu alkohol. Saya berpikir buat apa saya takut. Namun yang terjadi adalah wabah ini telah merusak semua rencana rapih yang telah dipersiapkan. Semuanya telah disusun apik. Saya sudah membeli tiket, lengkap dengan logistik dan playlist Spotify untuk pendakian saya menuju gunung Lawu dan Bukit Mongkrang yang terletak dekat dengan Lawu.  Ah.. betapa indahnya menikmati suguhan keindahan Lawu dan sisi lainnya dari Bukit Mongkrang!
Saya pun sudah mempersiapkan fisik dengan latihan keras setiap hari untuk Half Marathon kedua saya dan telah  membayangkan betapa bahagianya menyentuh garis finish di kilomieter 21. Tapi, seketika semua event lari yang seharusnya dilaksanakan dalam waktu dekat ini, dengan sangat berat hati harus diundur bahkan ada yang dibatalkan. Ya! Semua batal tanpa ampun!

Kesal? Pasti!
Saya termasuk bukan orang yang bisa tahan berlama-lama di rumah. Saya selalu berpikir ada banyak hal yang saya bisa lakukan di luar sana. Bertemu orang-orang baru, melatih fisik saya dengan olahraga, pergi ke beberapa event yang dapat menambah referensi visual saya, bahkan sampai beribadah pun semuanya .. woosh! berhenti seketika. oh mall jangan lupa, tutup semua. Wow! Great job Corona!

Mau sampai kapan sih ‘gini terus?
Pertanyaan yang hampir setiap saat saya ucap walaupun sudah tahu jawabannya. Ya, tentu saja tidak ada yang tahu kapan semua ini akan berakhir. Ini bukan masalah perorangan, bahkan ini adalah wabah dunia (terlepas dari segala konspirasi yang melatarbelakangi wabah ini hmm) Karena sepertinya Corona memang punya banyak akal. Mungkin saja virus tidak mempan di tubuh ini, tapi saya bisa menjadi pembawa virus untuk orang lain dan inilah yang jauh lebih saya takutkan. Penyebaran yang cepat dalam satu waktu membuat segala fasilitas kesehatan bisa saja tak mampu menampung lagi jumlah pasien.

Tapi ya saya bisa apa? Kita bisa apa?
Semua sektor nyaris terkena dampak lewat wabah ini. Jika kesehatan terganggu, ekonomi akan berdampak, orang akan mulai bingung bagaimana harus bertahan untuk hidup dan tak menutup kemungkinan isu sosial akan juga mulai bermunculan.
Selagi akal sehat masih berjalan selagi hati masih bisa didengar, cobalah sadar setiap saat bahwa ini adalah masalah bersama. Ikutlah berkontribusi dalam setiap solusi, walaupun kecil. Mencoba untuk tidak menjadi keras kepala. Mengikuti aturan dan segala anjuran yang diberikan. Tak lupa untuk terus menjaga gaya hidup sehat karena jelas saya tidak sudi jika penghasilan saya hanya untuk pengobatan fisik semata. We want to thrive not just survive!

Jelas kita tidak dapat mengontrol apa yang terjadi di luar sana. Semuanya datang dan pergi, terjadi dengan sangat tiba-tiba, berubah dengan cepatnya. Ingat ini, satu hal yang pasti adalah ketidakpastian, dan yang tak pernah berubah hanyalah perubahan. Percayalah tidak ada yang kekal di bawah kolong langit ini, semuanya sementara. Tugas kita hanya perlu menyesuaikan segala ritmenya, dan mencoba lebih peka dengan segala perubahan untuk melakukan yang terbaik yang kita bisa berikan.

#tetapsehat
#dirumahaja
#bosendikit

 

Continue Reading

Bahkan Bukan Sepasang

Kau terlihat sedang berberes

Iya aku sedang terburu buru, kalau tidak aku akan terlambat dan semua akan semakin menjadi kacau

Tapi ini masih terlalu pagi, mau kemana kau di pagi-pagi buta ini? Kau akan tersesat!

Sudah diam saja, sebaiknya kau bantu aku mempersiapkan barang-barang yang akan kubawa

Baiklah katakan apa yang kau butuhkan untuk mengisi kopermu itu

Ambilkan baju baju di lemariku

Tak mungkin, semuanya sudah usang, bolong dan tak sedikit termakan tikus

Tidak apa, seadanya saja, aku harus cepat
Sepatu, aku perlu sepatu itu ambilkan untukku

Sepatu bolong ini perlukah kau pakai? kau akan terlihat gembel jika memakainya

Sudah ambilkan saja
Apakah kau melihat kaos kaki yang kubeli saat liburanku tahun lalu?

Sepertinya hanya ada satu, kau takkan mungkin hanya memakai satu kaos kaki saja, itu pun sudah usang

Sudah tak apa, aku sedang terburu buru

Apalagi yang kau butuhkan?

Aku tak tahu, apakah ini sudah cukup, apakah ini perlu ditambah
Mungkin perlu kubawa semua yang telah kusimpan di lemari

Kau tak mungkin membawa semuanya,
kebanyakan rusak dan kau takkan bertahan di sana dengan semua barang-barang ini

Baiklah, mungkinkah kau temukan apa yang masih dapat digunakan

Ah, aku menemukan sebuah telinga

Sebuah telinga? Bukan sepasang?

Tidak, hanya ada satu

Apakah ini masih berfungsi?

Setidaknya dari semua barang-barang kau miliki, inilah yang terbaik
Cobalah dahulu sebelum kau pergi

Baiklah aku akan coba, barangkali dia masih bisa mendengarkan sebelum aku pergi

Continue Reading

Mana Lebih Baik?

Si bodoh itu rupanya tak sadar juga sudah berapa lama ia telah berdiri di sana

Melihat kesana kemari kanan kiri atas bawah

Siang malam tak pernah ia beranjak

Berjalan sedikit sedikit sih tapi kemudian mundur lagi

Lalu, apa sih yang dia katakan?

Ia selalu mengulang kata-kata yang tak penting

Lihat, komat kamit seperti baca mantra saja

Apa sih yang ia lakukan?

Melakukan hal yang itu-itu lagi

Bosan aku melihatnya

‘Sementang’ orang-orang tak menghiraukannya

Orang-orang hanya melihat sekilas lalu pergi

Siang bermimpi malam mengigau

Mimpi itu-itu lagi mengigau itu-itu lagi

Kupikir angin pun ‘ogah’ menyambar tubuhnya

Ia terlalu rapuh

Debunya akan merepotkan sekeliling

Apalagi hujan yang tak senantiasa turun

Rugi katanya kalau kalau ia turun dan bertemu dengannya

Mungkin ia akan mencair dan mengalir tak karuan kemana mana

Sampai panas matahari pun mungkin bosan memanggangnya

Kasihan dia

..

Sudah, lebih baik kucari orang yang lebih pantas kuperhatikan

Ah, mungkin dia!

Continue Reading

Bukan Topik Cinta

Ih aku tak bisa buat kata cinta-cintaan. Memang mau kasih ke siapa?

ya siapa saja yang kau cinta, berimajinasi sedikit

em, kau laksana embun yang datang di pagi hari

ah! embun pagi, cahaya mentari, fajar menyingsing, terlalu umum

baik

seperti dedaunan yang berguguran

hei, siapa yang menyuruhmu membuat puisi?

bukankah kata-kata cinta itu ya berarti seperti membuat puisi?

hm ya bisa jadi sih
tak melulu puisi, anggap saja kau sedang menulis surat

ah!
diamlah, dengar sebentar

baiklah

Atau pernahkah kau perhatikan saat saat gulungan awan indah terhampar di langit luas,
cantik bukan?
hiasan indah saat kau mengadahkan kepalamu ke langit
seringkali pula mereka membentuk apa yang pikiranmu inginkan
kemudian bergulung seakan tak peduli angin membawanya kemana
angin yang tak sopan itu membawanya melewati hamparan gurun yang luas
menari nari di sana dengan sangat menenangkan
namun jangan terlewat, angin juga membawanya melewati celah antara bukit yang sempit
memisah-misahkan mereka dengan seenaknya
sementang hukum alam telah mengatur keberadaannya
ia perlakukan sang awan dengan sangat tidak bijaksana
sementang awan yang terlalu rela
ia yang tak berperasaan
ia yang..

ah, itu bukan puisi cinta!
dan kau terlalu bepihak, tidak adil bagi angin

tidak adil bagaimana jelas anginlah sang tersangka, patut disalahkan

hah? kau tak sadar bagaimana segulungan awan jika mereka terus bersama
terikat kuat, mereka akan membuat gulungan hitam pekat
dengan cahaya sana sini
belum lagi suara yang mereka ciptakan
sontak semua pemilik mata pun tak berani memandang,
bersembunyi dan mengabaikan
jika bukan karena angin yang memisahkan mereka,
hal itu akan terus terjadi, menakutkan!

Kau harus kritis kawan!
siapa membuat mereka bersama terikat kuat?
siapa yang membawa mereka bergerak kalau bukan angin
bukankah lebih baik angin biarkan awan dengan ikhlasnya pergi kemana ia mau
tak perlu dia atur kemana arah yang ia tuju
biarkan awan dengan otoritasnya mengatur dengan saksama
betul tidak?

Kau kepahitan dengan angin!
Cari topik lain!

Continue Reading

Penasaran Mandalawangi

“eh bentar deh pak, itu suara dari hp lu ya?”
“iya”
“matiin dulu deh, gue mau dengerin suara alam dulu”
-Bimo

Saya suka dengan gunung yang memiliki tempat lain yang menjadi tujuan selain puncak. Misal Semeru dengan Ranu Kumbolo-nya, Gede dengan Surya Kencana-nya, Rinjani dengan Segara Anak-nya, dan yang satu ini Pangrango dengan Mandalawangi-nya.

Jelas saja setelah melakukan pendakian menuju Surya Kencana (Surken) di Gunung Gede, bohong rasanya jika tidak penasaran dengan padang Edelweis di Mandalawangi. Banyak yang bilang bagus dan terasa lebih private, karena pendaki akan lebih banyak menuju Surken dibanding ke Pangarango. Selama perjalanan pun pendaki akan disuguhkan dengan beberapa air terjun, dan salah satu di antaranya air panas. Terdengar menyenangkan sekali pikir saya, namun tidak ada yang menceritakan bagaimana trekking selama perjalanannya.
Singkatnya, Mandalawangi adalah padang edelweis di Gunung Pangrango. Perlu sekitar kurang lebih 10jam untuk dapat kesana melalui jalur Cibodas dengan medan yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Biasanya pendakian akan seperti ini pattern-nya, jalan dari basecamp sekitar 7-8 jam, menginap di pos terakhir, dan paginya summit attack. Namun berbeda dengan Pangrango, saya melakukan perjalanan dari basecamp langsung menuju Puncak kemudian menuju Mandalawangi dan menginap di sana. Sebenarnya bisa saja menginap di pos terakhir, Kandang Badak namanya, namun terlalu jauh dengan puncak, selain itu kami juga ingin menginap di Mandalawangi yang menjadi tujuan kami. Pendakian dibuka dengan jalur berbatuan dan terbilang cukup panjang. Tenang, anda akan mendapatkan refleksi gratis, lama, dan puas di sini. Kemudian memasuki hutan dengan percabangan jalur dimana mana dan seringkali menemukan batang-batang pohon besar yang terlentang bebas di tengah jalur. Saya sarankan jika kesini untuk mengajak orang yang lebih berpengalaman, karena jika tidak anda akan tersesat dengan mudahnya menjauhi jalur yang benar.
Ah!
Sudah pukul 7 malam belum sampai juga, yang kupikirkan hanya berjalan tak peduli lagi dengan lelah. Saya mau makan!

Sore itu rasanya tak sanggup lagi
Saya mencoba menguat-nguatkan diri
Perut sudah meronta minta terisi
Suhu semakin turun fokus pun terdikstrasi
Penerangan hanya sebatas senter
Saya yang kelelahan kepala sudah muter

Akhirnya Mandalawangi, kita berjumpa! Cuaca cerah sekali malam itu, hanya ada bulan dan bintangs (plural) sehingga pucuks (plural lagi) Edelweis dapat terlihat dengan mudah. Tapi tetap saja, dingin! Sejak sore sudah terasa dinginnya apalagi malam, hingga buru-buru kami mencari tempat terbaik untuk mendirikan tenda dan berpesta indomie. Menurut termometer suhu malam itu sekitar 4 derajat, alih-alih ingin bersyahdu ria di Mandalawangi saya menghangatkan diri dalam tenda langsung saja terlelap mencoba mengabaikan dinginnya malam itu. Namun beberapa kali saya terbangun, oleh karena dinginnya yang tak tertahankan, salah satu yang terdingin selama pendakian saya.
Selamat pagi Mandalawangi!
Akhirnya saya dapat menikmati Mandalawangi dengan segelas kopi panas, dan setumpuk roti tawar bakar berisi sosis bakso dan keju bersama teman-teman seperjuangan Cibodas, nikmatnya! Entah apa yang terjadi pikiran ini malah membanding-bandingkan dengan Surya Kencana. Saya tahu memang tak adil, seperti kau tengah menjalin mesra dengan seseorang tapi masih saja mengingat-ingat masa lalu, ehe. Surya Kencana memang lebih luas. Sangat! Tapi tetap saja Mandalawangi tetap punya pesonanya sendiri, anda akan tahu rasanya apalagi jika telah melewati rangkaian perjalanannya

Mau balik lagi ga?
hm! enggak deh, ampun-ampun track nya! Tapi kalo ga bawa apa-apa boleh juga sih, tektok mungkin?Ah! trail run! Sepertinya menarik, liat saja nanti.

Continue Reading

Tentang Ranu Kumbolo

mau seperti apa kualihkan 
aku tetap melihat kecantikannya
mau seperti apa kuabaikan 
aku tetap terpukau pesonanya

sikap dingin buatku ingin menghindarinya
tapi tak kuasa ku tetap menikmatinya
setiap gulungan kapas buatku semakin larut dalam pelukan
buat beribu alasan untuk bertahan

saat cahaya mulai semakin memperlihatkan
gemercik pun perlahan tak lagi meneduhkan
tiupan kencang jelas sekali di pendengaran
seakan kau ingin menunjukkan kemegahan

Ranu Kumbolo,
seperti apa kau sesungguhnya?

3 Juni 2019

Pertama kali menginjakan kaki di Ranu Kumbolo rasanya bulu-bulu kuduk-kuduk (he) berdiri melihatnya. Sebuah danau di ketinggian 2400 mdpl dengan luas sekitar 15 Ha, siapa yang dapat menahan decak kekaguman pada danau ini? Benar ya yang dikatakan orang dan yang diperlihatkan instagram, danau ini memang punya pesonanya sendiri. Singkatnya, setelah kembali dari puncak Mahameru, saya bersama tim bermalam di Ranu Kumbolo. Saya sendiri memang sudah tak sabar ingin berlama lama di danau ini. Sekitar pukul 6 sore kami tiba, berberes sebentar, makan malam, lalu istirahat. Kalau kata teman sih malam itu tidak begitu dingin, namun tetap saja dingin dan bahkan melebihi Kalimati (camp terakhir di Semeru) yang lebih tinggi.
Pagi tiba dan inilah saat-saat terbaik di Ranu Kumbolo. Setelah sabar menunggu dari pagi-pagi benar, kabut pun mulai terbuka. Sontak kami terpukau akan kecantikan danau ini, indah sekali. Kami pun menikmati Ranu Kumbolo dengan kopi atau susu hangat dengan beberapa gorengan atau mi instant atau apapun yang bisa dimakan sambil bercerita banyak hal. Banyak sekali! Rasanya ingin sekali saya hentikan waktu sejenak demi menikmati momen berharga ini. Tak ketinggalan saya menyempatkan untuk berjalan mengitari pinggir danau, mengambil beberapa foto sambil mengamat-amati orang-orang di sana. Tentu banyak sekali yang berpose ini dan itu di pinggir danau ataupun spots menarik di Ranu Kumbolo, sampai saya menemukan satu keluarga yang hanya bersantai dengan matras di pinggir danau. Ada yang membuka note book untuk menulis dan ada juga yang sedang sketching, damai sekali melihatnya.

Matahari semakin di atas kepala, beberapa teman-teman kami mulai turun, namun kami diperbolehkan jika masih ingin berlama di Ranu Kumbolo. Saya dan tiga teman yang lain memutuskan untuk bersantai dahulu di Ranu Kumbolo. Sejujurnya, saya ingin kembali ke Oro-Oro Ombo, namun kalau ke sana ya berarti saya harus naik kembali ke tanjakan cinta yang tanjakannya ampun-ampun! Setelah sukses dengan ribuan rayu, tiga teman saya mau kembali ke Oro-Oro Ombo, naik ke tanjakan cinta tapi dengan jalur memutar sehingga tidak terlalu berat bagi kami. Kami pun menikmati Ranu Kumbolo dari tanjakan cinta, beruntungnya saat itu kabut sedang terbuka, saya bergegas foto apapun sebelum kabut kembali menutup danau. Selanjutnya kami turun kembali ke Oro-Oro Ombo, sebuah savana luas dengan banyak bunga di sana. Walau tidak semua sedang bermekaran, tetap saja Oro-Oro Ombo sangat memanjakan mata! Setelah puas foto sana-sini, merekamnya baik-baik dalam kepala, kami kembali ke Ranu Kumbolo dan bersiap kembali ke basecamp Ranu Pani.

Belum meninggalkan Ranu Kumbolo, saya mendengar tiupan angin kencang yang tentu saja tidak biasa di pendengaran saya. 
“Nah, jika Semeru sedang berangin akan selalu terdengar seperti ini”, kata teman yang pernah sebelumnya ke Semeru.
Kemudian saya pun beranjak dari Ranu Kumbolo
dan ia …
meninggalkan kesan berbeda untuk saya.

 

 

Continue Reading

Istirahat

Tak perlu kau paksakan naik kepalamu yang berat itu

Kasihan isinya penuh dilanda gunjingan

Ku tahu kau ciptakan replika kedamaian

Padahal kau tak sadar sedang memupuk di bebatuan

 

Berulang kali

Tidak

Seringkali kau inginkan asa

Tapi yang kau lakukan hanya mencium cium aromanya

 

Kau buat fana semua yang kuberikan

Padahal Aku nyata

Kau bermain main dengan otak kecilmu

Padahal Aku tidak terbatas

 

Mau kau harapkan seperti apa lagi

Sudah lelah ragamu

Kemarilah nak

Sudah kusiapkan makan malammu

Continue Reading

Dalam Angan

Tergambar jelas setiap detail

Lekukan yang memanjakan mata

Ditambah dengan bentuk yang menghasilkan keindahan

Ah warna ! Jangan sampai terlewat

Satu atau dua ya?

Mungkin perlu ditambah sebuah garis panjang

Hiasan seperti lembaran yang terbuka juga tentu perlu

Biasanya bewarna hijau sih

Em, apa perlu saya membuatnya sedikit dramatis?

Misal dua atau tiga lembarnya terjatuh?

Tidak, itu berlebihan

Arsiran akan cukup membuat semuanya lebih indah

Baik, kembali lagi ke objek utama

Apa perlu saya membuat beberapa jenis?

Atau beberapa namun sejenis?

Ah ini akan terlihat menarik

Satu jenis namun dari arah yang berbeda

Begitu juga dengan yang hijau

Mungkin yang sebelah kiri sedikit terlipat di ujungnya

Nah yang sebelah kanan terlehat dengan dengan kokohnya

Baik, sudah jelas semua

Saya siap

..

..

Mulai darimana tadi?

Continue Reading