Penasaran Mandalawangi

“eh bentar deh pak, itu suara dari hp lu ya?”
“iya”
“matiin dulu deh, gue mau dengerin suara alam dulu”
-Bimo

Saya suka dengan gunung yang memiliki tempat lain yang menjadi tujuan selain puncak. Misal Semeru dengan Ranu Kumbolo-nya, Gede dengan Surya Kencana-nya, Rinjani dengan Segara Anak-nya, dan yang satu ini Pangrango dengan Mandalawangi-nya.

Jelas saja setelah melakukan pendakian menuju Surya Kencana (Surken) di Gunung Gede, bohong rasanya jika tidak penasaran dengan padang Edelweis di Mandalawangi. Banyak yang bilang bagus dan terasa lebih private, karena pendaki akan lebih banyak menuju Surken dibanding ke Pangarango. Selama perjalanan pun pendaki akan disuguhkan dengan beberapa air terjun, dan salah satu di antaranya air panas. Terdengar menyenangkan sekali pikir saya, namun tidak ada yang menceritakan bagaimana trekking selama perjalanannya.
Singkatnya, Mandalawangi adalah padang edelweis di Gunung Pangrango. Perlu sekitar kurang lebih 10jam untuk dapat kesana melalui jalur Cibodas dengan medan yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Biasanya pendakian akan seperti ini pattern-nya, jalan dari basecamp sekitar 7-8 jam, menginap di pos terakhir, dan paginya summit attack. Namun berbeda dengan Pangrango, saya melakukan perjalanan dari basecamp langsung menuju Puncak kemudian menuju Mandalawangi dan menginap di sana. Sebenarnya bisa saja menginap di pos terakhir, Kandang Badak namanya, namun terlalu jauh dengan puncak, selain itu kami juga ingin menginap di Mandalawangi yang menjadi tujuan kami. Pendakian dibuka dengan jalur berbatuan dan terbilang cukup panjang. Tenang, anda akan mendapatkan refleksi gratis, lama, dan puas di sini. Kemudian memasuki hutan dengan percabangan jalur dimana mana dan seringkali menemukan batang-batang pohon besar yang terlentang bebas di tengah jalur. Saya sarankan jika kesini untuk mengajak orang yang lebih berpengalaman, karena jika tidak anda akan tersesat dengan mudahnya menjauhi jalur yang benar.
Ah!
Sudah pukul 7 malam belum sampai juga, yang kupikirkan hanya berjalan tak peduli lagi dengan lelah. Saya mau makan!

Sore itu rasanya tak sanggup lagi
Saya mencoba menguat-nguatkan diri
Perut sudah meronta minta terisi
Suhu semakin turun fokus pun terdikstrasi
Penerangan hanya sebatas senter
Saya yang kelelahan kepala sudah muter

Akhirnya Mandalawangi, kita berjumpa! Cuaca cerah sekali malam itu, hanya ada bulan dan bintangs (plural) sehingga pucuks (plural lagi) Edelweis dapat terlihat dengan mudah. Tapi tetap saja, dingin! Sejak sore sudah terasa dinginnya apalagi malam, hingga buru-buru kami mencari tempat terbaik untuk mendirikan tenda dan berpesta indomie. Menurut termometer suhu malam itu sekitar 4 derajat, alih-alih ingin bersyahdu ria di Mandalawangi saya menghangatkan diri dalam tenda langsung saja terlelap mencoba mengabaikan dinginnya malam itu. Namun beberapa kali saya terbangun, oleh karena dinginnya yang tak tertahankan, salah satu yang terdingin selama pendakian saya.
Selamat pagi Mandalawangi!
Akhirnya saya dapat menikmati Mandalawangi dengan segelas kopi panas, dan setumpuk roti tawar bakar berisi sosis bakso dan keju bersama teman-teman seperjuangan Cibodas, nikmatnya! Entah apa yang terjadi pikiran ini malah membanding-bandingkan dengan Surya Kencana. Saya tahu memang tak adil, seperti kau tengah menjalin mesra dengan seseorang tapi masih saja mengingat-ingat masa lalu, ehe. Surya Kencana memang lebih luas. Sangat! Tapi tetap saja Mandalawangi tetap punya pesonanya sendiri, anda akan tahu rasanya apalagi jika telah melewati rangkaian perjalanannya

Mau balik lagi ga?
hm! enggak deh, ampun-ampun track nya! Tapi kalo ga bawa apa-apa boleh juga sih, tektok mungkin?Ah! trail run! Sepertinya menarik, liat saja nanti.

Continue Reading