Bersih-Bersih

“Tak ada yang lebih baik dari penggali kubur, mereka melayani orang-orang yang tak lagi butuh dilayani” kata si orang mati

Sudah lama sekali rasanya tak menikmati karya fiksi sastrawan Indonesia. Bukan, bukan berarti selama ini saya menikmati karya fiksi penulis luar. Namun belakangan saya lebih suka buku-buku motivasi. Ya, anda dipersilahkan untuk menyimpulkan bahwa saya kurang motivasi.

Sebuah karya dari Eka Kurniawan berjudul Cantik itu Luka. Sesuai dengan judulnya anda dapat menemukan dalam buku ini bahwa setiap karakter wanita yang berparas cantik memiliki lukanya masing-masing. Melalui para wanita cantik inilah Eka Kurniawan merangkai cerita asmara bahkan incest, mitos, magis, sejarah bahkan cerita rakyat. Mengambil latar waktu jaman sebelum kemerdekaan hingga PKI, penulis mengajak pembaca untuk melihat bagaimana kondisi social, ekonomi, dan budaya di jaman tersebut. Diawal cerita saya dibawa kesana kemari karena alur waktu yang dipakai maju mundur. Namun setelah membaca seperempat dari buku ini baru saya menyadari ada dimana saya sekarang.

Singkatnya,

Dewi Ayu yang adalah tokoh utama pada cerita ini memiliki paras yang sangat cantik lahir dari seorang Belanda dan nyai digambarkan sebagai sosok yang kuat, berprinsip, dan sangat peduli dengan keluarga dan sesamanya. Terlihat jelas saat ia berada di kamp untuk warga setempat yang dibuat oleh tentara Jepang, Dewi Ayu yang nampak sangat peduli dengan kondisi kamp yang sangat menyedihkan tersebut. Banyak dari warga di kamp itu mati karena penyakit malaria dan kelaparan. Hingga ibu dari sahabatnya sekarat dan Dewi Ayu menyuruh sahabatnya meminta ijin kepada Jendral Jepang untuk mengambil obat dari dokter. Jendral akan memberikannya namun dengan syarat ia mau bercinta dengan sang jenderal. Tidak terima sahabatnya diperlakukan seperti itu, Dewi Ayu merelakan dirinya sendiri untuk bercinta dengan sang Jendral. Namun ironinya, sebelum dokter datang, ibu dari sahabatnya telah mati.

Tapi masalahnya tidak sesederhana itu, ternyata. Si gadis Ola tak bisa mengatakannya dalam keadaan hati yang terguncang, tapi dokter segera bisa memastikan. “Perempuan ini sudah mati,” kata si dokter, pendek, dan menyakitkan.

Semuanya berlalu begitu saja seakan nasib sengaja memaksa Dewi Ayu menjadi pelacur. Namun bukan menjadi pelacur yang diinjak-injak masyarakat, Dewi Ayu malahan menjadi pelacur yang dihormati seperti pejabat kebanyakan. Dewi Ayu melahirkan empat anak perempuan. Tiga dari mereka sangat cantik, pengecualian bagi si bungsu, oleh karena ia telah bosan dengan anak-anak perempuannya yang cantik, ia berharap anak bungsunya buruk rupa, dan Tuhan mengabulkan permintannnya.

Ia akan berdoa kapanpun ia ingat; di kamar mandi di dapur di jalan bahkan ketika seorang laki-laku gembrot berenang di atas tubuhnya dan ia teringat, ia akan segera berkata, siapap pun yang mendengar doaku, Tuhan atau iblis, malaikat atau Jin Iprit, jadikanlah anakku buruk rupa.

Tidak seperti yang ia bayangkan bahwa kemalangan terjadi kepada keempat anaknya. Mulai dari kehamilan Alamanda (anak pertama Dewi Ayu) yang berakhir di bulan ke sembilan kemudian ia mengeluarkan angin dari mulutnya yang sangat banyak dan seketika itu juga perutnya menjadi kempes. Hal ini terjadi berulang kali hingga anaknya benar-benar lahir di kehamilannya yang keempat. Kemudian Adinda (anak kedua), bersuami yang sebelumnya merupakan kekasih dari Alamanda kakaknya dan ia rela hidup dalam ketakutan lantaran suaminya yang adalah seorang PKI. Maya Dewi (anak ketiga) yang dipaksa menikah oleh ibunya dengan seorang preman yang merupakan pelanggan dari ibunya sendiri. Dan tentu saja Si Cantik (anak terakhir) namun sayang rupa tak secantik namanya, dikawini oleh keponakannya sendiri, namun di depan matanya Si Cantik melihat kekasih hatinya mati dibunuh.

Di akhir tulisan seperti ada kesimpulan bahwa kemalangan yang terjadi dikarenakan paras cantik. Seperti kutukan yang bermula dari Dewi Ayu, Sang pelacur terhormat hingga kepada anak cucu dan menantunya. Membaca Cantik itu Luka mengingatkan saya akan Sang Maharani oleh Agnes Jessica yang saya baca saat SMA. Sama-sama mengambil latar di jaman penjajahan Indonesia dan menceritakan kelamnya nasib perempuan dan bahkan seringkali diperlakukan sebagai ‘objek wisata’. Kecantikan seperti tidak menjadi keuntungan bagi mereka di jaman ini, melainkan menjadi beban tersendiri bagi empunya.

Kalau sekarang ‘sih bisa jadi influencer.

..

Lukisan hasil bersih-bersih saya kerjakan selama kurang lebih dua bulan. Oleh karena saya sangat menyukai lukisan bertekstur, maka saya mencari apa saja untuk dijadikan tekstur, akhirnya Bersih-Bersih dibuat dari kapas yang saya pakai untuk membersihkan wajah. Setidaknya saya telah membuat kapas ini berperan ganda selain jadi pembersih namun dapat bernilai estetika #yass. Diselesaikan dengan cat akrilik pada ukuran seperti biasa 40x60cm.

You may also like

2 Comments

  1. Good story! Pada jaman cerita diatas sepertinya menjadi wanita saja sudah menjadi luka tersendiri. Jika cantik bisa dijual ke kulit putih menjadi Nyai, jika tidak menarik bisa menjadi beban keluarga karena akan dikata tidak laku. Untung-untung kalau dinikahkan oleh orang yang benar, tapi ya untung-untungan, pada jaman itu sepertinya wanita lebih bergantung pada nasib daripada memperjuangkan hak. Thanks for sharing!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *