Daripada Ini Mending Itu

Adalah kengerian bagi saya,
jika semua ide yang saat itu ada semuanya berlalu kemudian larut tertuang waktu

Karawaci, 15 Juli 2018

Minggu di pagi itu saya bangun, saya bercermin sebentar, saya mandi, saya memakai baju, saya membuat susu, saya menyalakan musik, saya melamun sebentar, lalu seketika semua ide-ide seakan terburu-buru menyambangi. Ide yang muncul tak hanya mengenai seni, banyak hal seperti apa yang akan saya makan hari ini, apa yang harus ucap saat orang berkata,
“lu sisiran ga sih tadi pagi?”
“jadi resign ga sih?”
dan sebagainya.
Alhasil saya pikirkan semuanya dengan tergesa-gesa. Ya, hal ini seringkali terjadi dan cukup melelahkan bagi saya. Hingga akhirnya, saya mengambil sebuah kanvas di atas rak yang sudah lama semenjak saya membelinya tak sedikit tinta atau apapun di atasnya. Hanya debu halus yang semula tipis tak terlihat perlahan berhasil membuat kanvas saya menjadi menguning karena semakin menebalnya debu.

Saya putuskan saat itu saya ingin menantang diri saya untuk menumpahkan apa yang ada di kepala tanpa henti. Hmm bagaimana ya menjelaskannya. Jadi, karena saya pikir ide di kepala saya seperti sedang penuh, saya ingin menumpahkannya begitu saja, tanpa perlu berpikir panjang, tanpa perlu melibatkan perasaan yang begitu mendalam, semuanya spontaneous. Namun sebelum mulai saya buka kembali spotify dan langsung mengetik Solas PM dari Dewa Budjana. Semenjak Solas PM sampai pada indera pendengaran saya, saya jatuh cinta bukan main. Karya jenius dari seorang Dewa Budjana! Ya, Solas PM mambawa saya kepada tumpahan cat pertama di kanvas itu, tentunya dengan berdasar pada segudang ide dan pikiran segar pagi itu. Karena saya suka sekali tekstur. Jelas, yang menjadi senjata utama dan mendasar bagi saya ialah segala hal yang sudah tidak terpakai lagi, ya sebut saja kertas bekas.

Semuanya berlalu begitu cepat, betul-betul tanpa henti. Saat alunan dari Dewa Budjana itu berhenti, lagi dan lagi saya mainkan. Apa yang terjadi sungguh tidak saya duga pula. Dimana saya menempatkan semua robekan kertas, tekstur yang muncul dari lem fox, pemilihan warna, sampai kepada presentase air dengan cat, semuanya seakan terjadi seperti mesin yang telah digunakan dengan rutin.

Tidak begitu melibatkan perasaan, membuat saya semakin larut dalam aktivitas ini

Satu setengah jam berlalu, satu setengah jam pulalah Solas PM berputar berulang kali. Selesai lah aktivitas saya pagi itu.
Ha ha ha !
Saya tertawa dan terbelalak tak percaya. Sungguh sebuah penampilan yang apik dari saya dan untuk saya sendiri (ya, anda dipersilahkan tertawa)

Akhirnya, selamat menikmati bagi anda yang ingin menikmati. Saya persembahkan penampilan dari saya untuk saya pagi itu dalam sebuah karya(?) Entah, saya tak memaksa anda untuk mengatakan ini adalah karya. Yang jelas saya tak menyesal menumpahkan semua ide yang mampir pagi itu, daripada larut oleh waktu, ngeri!

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *