Indahnya Jazz, Merdunya Bromo

Sementara alunan itu diperdengarkan
Aku terus mempertanyakan bagaimana mungkin ia mampu masuk ke dalam setiap saraf hingga menenangkan setiap bagiannya?
Sementara alunan itu diperdengarkan
Aku terus mempertanyakan bagaimana mungkin ia mampu masuk ke dalam sukma hingga menyebarkan energi positif ke seluruh raga?

Aku bahkan tak sampai hati untuk mengupas setiap lapisannya
Terlalu sayang untuk ditelisik
Aku tak mau pusing, hari ini aku mau dipuaskan
Hingga kuputuskan, kubiarkan saja mereka tetap menyatu
Mempercayakan kepada ahlinya memanjakan telinga

Jazz Gunung 2017 meninggalkan kesan bagi saya. Keinginan untuk kembali jelas tentu saja ada. Namun dengan berbagai pertimbangan saya pikir tahun ini saya tidak perlu lagi. Ya, hitung-hitung saya sudah pernah sekali ke Jazz Gunung. Namun, siang itu saat perjalanan menuju ke Cikampek (perjalanan menuju ke percetakan) Lusy (teman gereja saya (@lusyanayulia jika anda ingin mengetahui lebih lanjut)) mengirimkan pesan melalui Instagram, mengajak saya ke Jazz Gunung. Tentu saat itu saya menolak. Namun begitu Lusy berkata bahwa ia mendapat tiket VIP gratis berikut dengan akomodasinya, saya langsung membuka Traveloka untuk mencari tiket pesawat. Ya walaupun terdapat drama setelahnya sih, namun pada intinya saya mengiyakan tawaran Lusy.

Bagaimana bisa mendapat tiket gratis?

Jadi seperti ini, temannya Lusy bernama Ka Ingrid, ia mengikuti Jazz Gunung Bromo 2017, lalu menang dalam kontes foto yang diadakan oleh pihak Jazz Gunung. Hadiah berupa tiket VIP tiga hari + penginapan di tenda selama tiga hari pula untuk dua orang. Bayangkan, menikmati Bromo di tenda sambil disenandungkan syahdunya Jazz, siapa yang tidak mau? Namun, sangat disayangkan ka Ingrid sudah membeli tiket ke Bangkok sehingga tiket untuk dua orang tersebut diberikan kepada Lusy. Syukur Puji Tuhan, Lusy mengajak saya! Ah! ..aku diberkati sepanjang hidupku diberkati ! Terima kasih juga kepada Ingrid, Tuhan menyertai 🙂

27 July 2018

Hari itu saya berhasil menghasut Lusy untuk pergi ke Bandara Soeta dari Karawaci (kos saya) dengan menggunakan motor lalu parkir inap di sana selama 3 hari . Dengan iming-iming harga yang berbeda jauh jika kami menggunakan transportasi online. Jelas jauh, parkir inap motor di bandara hanya lima ribu per 1×24 jam, sedangkan jika kami menggunakan transportasi online bisa lebih dari dua ratus ribu untuk pulang-pergi.
Sekitar pukul 6 pagi, terbanglah kami menuju Surabaya. Setengah 8 kami tiba di Bandara Juanda Surabaya dan telah ditunggu oleh mas Rino yang akan menjadi LO kami selama 3 hari ke depan. Ternyata kami tidak hanya berdua, kami bersama dengan rombongan dari Bandung yang terdiri dari 2 bapak-bapak dan 5 orang ibu-ibu. Terkejutnya saya adalah mereka sudah langganan ke Jazz Gunung, dan tahun ini merupakan kali ketiga mereka. Wow, saya kagum sekali, meskipun tidak lagi berusia 20 atau 30-an tapi mereka pede saja jauh-jauh dari Bandung untuk menonton konser musik.
Singkat cerita sebelum sampai di Bromo, kami serombongan mampir di Rawon Ngulig Probolinggo. Sampai di sana, saya sangat terkejut sekali bertemu dengan sahabat SMA. Vivi namanya, kini ia seorang pramugari Garuda. Sudah lama sekali tidak bertemu, dan sekali bertemu, kami bertemu di Probolinggo. Sampai jumpa lagi, Vivi !

Sekitar pukul 3 sore sampailah kami di Jiwa Jawa Resort.

Ah udara ini yang saya rindukan
Bromo, kita bertemu kembali

Senang sekali rasanya, tidak seperti jika saya naik gunung, yang harus repot dengan urusan tenda (ya walaupun bukan saya juga yang biasanya membangun tenda) namun kini tenda telah siap, bantal selimut telah tesusun rapih lalu hanya beberapa langkah dari tenda kami, terdapat kamar mandi yang bersih berikut dengan air panasnya.
Sekitar pukul 5 sore, acara Jazz Gunung pun dimulai, venue Jazz Gunung pun sangat dekat dari tenda kami, kami hanya perlu menaiki tangga, dan sampailah kami di amfiteater Jiwa Jawa Resort.

Saya miss di dua penampilan pertama di hari pertama. Kemudian saya disuguhkan dengan penampilan dari Jungle by Night, band dari Amsterdam Belanda. Jelas mereka membuat jamaah aljazziyah (begitu sebutan untuk penonton Jazz Gunung) terpana. Hmm, sulit untuk dijelaskan, genre music mereka lebih campuran dari jazz, funk, afrobeat. Sangat menghibur, menyajikan nuansa yang berbeda di Jazz Gunung tahun ini. Laki-laki berjumlah delapan orang dengan skill yang luar biasa dan terlihat masih muda, jelas ini menjadi poin plus bagi saya (hihi). Tohpati Bertiga benar-benar bertiga (guitar, bass, dan drum), kali ini mereka mambawakan lagu-lagu pop dengan sentuhan jazzy (tapi ada yang cenderung ke rock juga. Ah, saya memang bukan pakarnya bermusik, tidak begitu paham) Lanjut ke penampilan Barry Likumahuwa. Lagu-lagu Barry dari band sebelumnya yaitu BLP sudah sering saya dengar, jadi beberapa saya paham pattern yang ia bawakan malam itu. Namun ya jelas tak perlu diragukan lagi penampilannya, menurut saya ini menjadi puncak di hari pertama Jazz Gunung 2018, sangat berkelas. Di penghujung acara kami dibawa ke lagu-lagu romantis 80-an dari Andre Hehanusa. Tak begitu banyak yang saya tahu, namun beliau berhasil membawa penonton bernostalgia (khususnya 50 tahun ke atas)

Malam itu Bromo semakin dingin
Berusaha untuk tidur pun tak cukup
Saya harus menjaga tubuh ini tetap hangat dengan beberapa lapis pakaian

28 July 2018

Rencana tinggalah rencana. Menikmati sunrise Bromo saat itu, ah lupakanlah. Mungkin karena tenda yang terlalu nyaman, kami baru terjaga di pukul setengah 6 pagi. Karena kami hanya berdua, kami putuskan untuk eksplorasi Bromo dengan ojek. Ya, beruntunglah anda yang pergi serombongan besar, karena anda dapat naik Jeep dengan aman dan nyaman. Tapi bagi kami yang hanya berdua, sudahlah naik ojek saja. (Saya baru sadar saya belum pernah naik Jeep di Bromo, tahun lalu karena hanya bertiga dengan Rina dan Anggi, kami naik ojek. Tahun ini hanya berdua, ya mau tak mau.) Namun menggunakan ojek di Bromo, sangat saya rekomendasikan bagi anda, rasakan sensasinya.

Kawah Bromo yang selalu Instagramable, tak peduli pasirnya, bau kotoran kudanya, dan ramainya orang-orang yang berkunjung, kawah Bromo tetap menawan bagi saya. Saran bagi anda, kawah Bromo sangatlah panjang, jika anda baik-baik saja dengan ketinggian, berjalanlah lebih jauh di bibir kawah, anda akan menemukan tempat yang lebih bagus di kawah Bromo, dibanding hanya diam di tangga terakhir dan berkumpul di sana.
Lanjut ke bukit King-Kong titik menikmati Sunrise Bromo. Ya kami salah, menuju bukit King-Kong melalui Seruni adalah ide yang kurang bagus. Butuh hampir 1 jam dari Seruni menuju bukit King-Kong, sementara kami hanya membawa kurang dari 750ml air ditambah matahari yang semakin dekat dengan kepala kami. Tapi ya sudahlah, nasi sudah menjadi uduk.

Sorenya kami melanjutkan hari kedua Jazz Gunung 2018.

Performer malam itu ialah Ring of Fire , Surabaya All Stars, Bintang Indrianto, dan Barasuara. Semuanya ciamik, memukau dan jelas tak dapat saya siratkan. Tidak hanya Jazz, beragam genre seperti pop, funk, reggae, folk, etnik, hingga dangdut semuanya dipadukan secara jenius oleh ahlinya. Entah mengapa di hari kedua saya semakin emosional. Menikmati semua suguhan ini membuat saya sangat terharu. Sangat indah. Bintang Indrianto dengan “Soul of Bromo” nya, lagu-lagu yang dibawakan oleh Syahrani bersama Surabaya All Star, belum lagi para kaum masa kini yang membawakan lagu dengan lirik bermakna kuat yaitu Barasuara.

Dan akhirnya…

29 Juli 2018

Air mata sudah tak terbendung lagi…

Spesial Jazz Gunung tahun ini ialah hari ketiga diselenggarakan di pagi hari. Sekitar pukul 5.30 pagi sudah mulai terdengar suara dari Bonita, buru-buru kami langsung ke venue. Sangat syahdu sekali hingga saya tak dapat menahan air mata. Entahlah, saat itu saya merasa sangat diberkati sekali! Ditambah dengan lagu yang dibawakan Bonita and The Hus Band, yang berjudul God Came To Me yang diciptakan oleh Adoy, gitaris dan suami dari Bonita. Dalam lagu ini ia menceritakan pengalaman mengenai perjumpaan pribadinya dengan Tuhan. Tidak diceritakan secara spesifik bagaimana perjumpaan yang dia alami. Visual, audio, atau peraasaan kah, tak masalah bagi saya, Tuhan punya caranya sendiri.
“.. Nothing special with Me coming to you, I’m always here with you.” Liriknya sangat sederhana, namun manis :’)
Dilanjutkan penampilan romantis dari Endah n Rhesa, Bianglala Voice, dan Nona Ria. Semuanya ialah accoustic performance. Jazz Gunung paham benar cara menyajikan suguhan yang terbaik bagi para penikmat musik. Di hari ketiga mereka ingin agar jamaah aljazziyah tak serta merta fokus menikmati musik yang full band tapi menikmati sajian Bromo yang kian menawan yang tepat berada di belakang stage seiring dengan sinar matahari yang menyinari pesonanya sambil disenandungkan dengan accoustic performance. Menurut saya ini sajian terbaik dibanding private concert di hotel bintang 5. Ahh.. Praise the Lord!
Sekitar pukul 10 pagi berakhirlah acara Jazz Gunung 2018. Meninggalkan Bromo munuju Bandara Juanda lalu ke Soetta, lalu kami kembali pada rutinitas tanpa mau melupakan sedikit pun tentang Bromo dan Jazz Gunung.

Lagi-lagi Jazz Gunung meninggalkan kesan manis bagi saya. Saya begitu sangat menikmati bagaimana mereka membangun suasana yang berbeda dalam menikmati musik yang berkelas. Lokasi , venue yang unik, pemilihan para musisi, audio yang berkualitas karya anak bangsa, pencahayaan yang tak kalah dari konser musik di tengah kota, dekorasi yang berbeda tiap tahunnya, dan bonus tahun ini adalah menikmati music di pagi hari. Semuanya epic, semuanya sempurna dalam pandangan saya. Tak ada provokasi, perbedaan prinsip, semuanya kompak melupakan ego masing-masing dan menyatu dalam musik.

Pemaknaan Jazz saat ini memang telah bergeser. Sudah terlalu banyak inovasi pada genre Jazz. Namun, sama seperti tahun sebelumnya saya berharap Jazz Gunung tetap berprinsip dengan mendatangkan musisi dengan musikalitas yang berkelas, bukan hanya mengenai popularitas. Indonesia memiliki banyak musisi indie dengan skill yang luar biasa, Jazz Gunung dapat menjadi salah satu tempat untuk mereka dapat terpelihara.
Terima kasih Jazz Gunung, terima kasih telah menginspirasi.
Selamat satu Jazzawarsa.

Kali ini dengan mantap saya katakan, sampai bertemu di Jazz Gunung 2019!

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *