Coba Berpikir

Saya yang sudah terlalu jatuh cinta dengannya
Terlalu menganggap beruntungnya saya akan semua yang telah disajikan
Saya yang sudah jatuh hati, sampai sampai hati ini susah berpaling dari dirinya
Terlalu menganggap bahwa dirinya sudah beri segalanya namun raga ini sulit sekali disadarkan

Namun saya bisa apa sih?
Saya tahu apa sih?

Seorang pengamat dari kejauhan
​yang terlalu takut bahkan untuk berada di tepian pusarannya
Seorang penikmat belaka
yang terlalu apatis untuk terlibat lebih jauh

Hamsad Rangkuti dalam bukunya yang berjudul Ketika Lampu Berwarna Merah menuliskan seperti ini,
Apakah mungkin pedagang abu gosok mengerti soal-soal politik? Apa mungkin pedagang abu gosok terpikir tentang martabat bangsa?
Hmm, ini cukup membuat saya berpikir. Ketika sekelompok orang sibuk berjuang keras untuk membangun bangsa ini, menyelesaikan persoalan ini itu, namun di sisi lain ada yang sedang berjuang bertahan untuk hidup. Tahu apa mereka tentang martabat bangsa, dapat membaringkan kepala dengan tenang saja sudah untung bagi mereka. Buku Ketika Lampu Berwarna Merah menceritakan kehidupan anak-anak yang hidup di jalanan Jakarta. Bermodalkan kata “ibukota”, mereka menggantungkan hidupnya di Jakarta. Hidup dengan mimpi-mimpi yang dibuat oleh Jakarta, tanpa tahu apa yang Jakarta juga dapat berikan yang bisa saja mengancam keberadaan mereka. Di sini Hamsad Rangkuti mendeskripsikan secara mendetail bagaimana tokoh-tokoh tersebut menjadi pengemis hingga semua perjuangan dari tokoh-tokoh tersebut dijabarkan secara mendetail oleh penulis. Mereka pun sebenarnya melawan keadaan, berusaha untuk keluar, namun bagaimana mau keluar menemukan celahnya saja pun sulit. Ya hingga yang tadinya situasi menjadi nasib bagi mereka. Kemudian siapa yang berani bertanggung jawab? Negara?

Rasanya memang nikmat sekali mngkritik sana sini. Memang nikmat sekali untuk berkata
“Perjuangkan hak rakyat!”
“Dasar! Pemerintah ‘ga bener!”
“Ganti presiden!”
​”Korupsi tuh!”
Apalagi dengan ‘segudang’ tempat untuk beraspirasi, jika dikiritisi, ya, pergi saja tanpa permisi.

Inilah yang menggangu pikiran saya, saya yang tahu lalu saya bisa buat apa?
Ya benar saya berpikir, tapi raga ini tidak cukup sanggup untuk mengeksekusinya, ya buat apa? Hmm..

#mikirsebelumtidur

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *