Jazz Gunung Bromo 2017

Sebelum lupa,
Tepat di tanggal 17 Agustus 2017 kemarin saya bersama teman-teman memutuskan untuk melarikan diri sejenak dari rutinitas dan pergi ke Bromo. Spesial Bromo kali ini adalah Jazz Gunung Bromo 2017.

​16 Agustus 2017
Bermodalkan nekad dan niat yang kuat tanpa diseimbangkan dengan persiapan yang matang kami pun berangkat. Perjalanan kami lakukan bertiga saja bersama Anggie dan Rina menggunakan kereta dari Pasar Senen menuju stasiun Pasar Turi Surabaya. Perjalanan kami dibuka dengan kedatangan Anggie yang datang tepat di pukul 14.00, tepat keberangkatan kereta di pukul 14.00 juga. Luar biasa paniknya! Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih 11 jam. Kami memakai kereta ekonomi dan ini pertama kalinya perjalanan jauh saya menggunakan kereta. Memang sangat murah menggunakan kereta ekonomi, namun siap-siap saja lutut bertemu lutut. Rasanya langka sekali untuk dapat meluruskan kaki.

17 Agustus 2017
Singkat cerita sampailah kami di Pasar Turi di pukul 02.00 WIB. Kami harus melanjutkan perjalanan ke Probolinggo dengan kereta di stasiun lainnya. Oleh karena itu, kami pergi ke stasiun Gubeng dengan taksi agar dapat melanjutkan kereta ke stasiun Probolinggo. Namun kereta pagi saat itu di pukul 04.30, maka kami menunggu sekitar dua jam di stasiun Gubeng. Di stasiun tidak sepi, akan ada wisatawan lokal dengan tas-tas besar lainnya yang sudah duduk di depan stasiun menunggu kereta mereka. Dari stasiun Gubeng ke Probolinggo memakan waktu kurang lebih 3 jam. Jujur saja, kami tidak tahu kalau penginapan kami masih sangat jauh dengan Bromo. Ya benarlah, penginapan kami terletak di Probolinggo yang dimana kami masih membutuhkan 1 jam lebih hingga ke Bromo.
Sampai di Probolinggo pukul 8 pagi tanggal 17 Agustus tepat di hari kemerdekaan RI. Kami pikir kami akan mengikuti upacara bendera dan sebagainya. Namun karena kelelahan kami pun merapatkan barisan lalu tidur.
Terbangun karena lapar, saatnya kami eksplor Probolinggo. Luar biasa panas di Probolinggo. Berbekal “ngotot”, kami pun berhasil menego penyewaan mobil untuk dua hari seharga Rp600.000 untuk keliling Probolinggo dan Bromo.
Hari itu pun kami habiskan bertiga ke sebuah tempat bermain di BeeJay Bakau Resort Probolinggo. Sebuah Resort yang cukup luas dengan banyak sekali tempat bermain di dalamnya. Menariknya, di tempat ini banyak sekali dibuat ..hmm semacam karya seni yang terbuat dari barang bekas dan terdapat hutan bakau pula di sana. Tiket masuknya pun tidak begitu mahal sekitar 35 ribu untuk menikmati seluruh taman bermain hingga hutan bakau. Malamnya kami merayakan ulang tahun Anggie di penginapan. Selamat bertambah usia Anggita Mahardika, doa yang terbaik untuk Anggie !

18 Agustus 2017
Subuhnya kami bangun demi mengejar matahari terbit di Bromo. Pukul 03.00 kami beranjak dari Probolinggo. Sekitar pukul 04.00 kami pun sampai di Bromo. Sudah terlalu biasa ke Bromo menggunakan Jeep, kami mencoba memanggil ojek untuk antar keliling Bromo! Bayangkan Bromo dengan lautan pasir kami tempuh dengan motor. Mengerikan! 1 ojek kami sewa 100ribu. Mahal memang, namun sensasinya luar biasa.
Puas jalan-jalan di Bromo, kami turun ke Jiwa Jawa Resort tempat Jazz Gunung diadakan. Yak! Tibalah acara yang ditunggu-tunggu. Pukul 14.00 WIB penukaran tiket. Lalu acara dimulai pukul 15.00 (seharusnya), namun mundur hingga sekitar pukul 16.30 WIB. Jiwa Jawa Resort bagus sekali. Venue-nya outdoor, stage berada di bawah, kursi penonton tersusun ke atas dan kami duduk di kelas festival. Maupun kelas festival, saya pikir tempat duduk kami cukup oke untuk menikmati acara ini.
Jazz Gunung tahun ini dibuka dengan penampilan dari Surabaya All Star. Beberapa lagu dengan arransemen yang baru mereka bawakan dengan sangat apik. Mulai dari lagu lawas hingga lagu masa kini bahkan dangdut. Maaf, saya tidak fasih dalam mengomentari musik, namun Surabaya All Star sangat baik sebagai pembuka Jazz Gunung di hari pertama. Dilanjutkan dengan penampilan dari Paul McCandless & Charged Particles. Tidak tahu pasti dari mana band ini, namun dari telinga awam saya, penampilan dari band ini, ya, cukup baik. Kemudian acara break selama satu jam. Kami membeli cemilan yang dijual di depan Jiwa Jawa Resort. Setelah break, berikutnya penampilan dari Monita Tahalea yang sangat syahdu. Saya tahu benar bahwa Monita membawakan lagu dengan syair yang diambil dari ayat Alkitab, sangat menarik! Semakin malam Bromo pun semakin dingin, nikmat sekali rasanya. Lalu yang satu ini sangat menghipnotis, yaitu penampilan dari Dewa Budjana. Luar biasa, saya sungguh terpana, karena baru kali ini saya menyaksikan penampilan Dewa Budjana tanpa bersama Gigi. Saya sampai menutup mata demi menikmati layer demi layer dari setiap instrument yang dimainkan, sangat berkelas. Tak terucapkan rasanya saat menikmati bagaimana sensasi penampilan berkelas dari Dewa Budjana ini di ketinggian Bromo. Berlebihankah? Namun memang itu yang terjadi.
Kemudian Jazz Gunung di hari pertama ditutup dengan penampilan dari band yang paling saya sukai di Indonesia yaitu Maliq and D’Essential. Ya, semua pun tahu bagaimana performance dari Maliq, arransemen yang tidak perlu diragukan lagi. Maliq tahu bagaimana membuat sebuah performance yang dapat menghibur dan membuat penonton puas. Tak hanya enak didengar, namun Maliq memikirkan bagaimana aksi panggung mereka. Sangat menghibur.
Waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB dan selesailah Jazz Gunung 2017 hari pertama. Oleh karena kami akan sibuk di hari Seninnya dan kami menggunakan kereta, jadi kami hanya mengikuti event ini di hari pertama. Esoknya kami berangkat dari Probolinggo ke Surabaya. Main sebentar di Surabaya lalu kami pulang dari Stasiun Pasar Turi menuju stasiun Pasar Senen Jakarta selama kurang lebih 11 jam.

Tentu saja dapat berlibur dengan teman dekat merupakan kebahagiaan tersendiri bagi saya, saya pun menjadi sangat antusias dengan acara ini. Sebuah pengalaman berbeda dimana saya dapat menikmati syahdunya jazz di ketinggian bromo yang dingin, dimana kami penikmat musik didekatkan dengan alam. Jamaah al-Jazziah sebutan bagi kami penonton Jazz Gunung. Saya berharap Jazz Gunung di tahun mendatang tetap berprinsip pada event jazz dengan mendatangkan performer yang benar-benar ber-genre jazz.

Sampai jumpa di Jazz Gunung 2018! (mungkin)

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *