Jalan Pulang

Proses yang terjadi akhir- akhir ini membawa tangan saya untuk menuliskan hal yang sepertinya sedikit berbeda dari kebiasaan saya.
Baiklah
Jadi,
Setelah berputar-putar di Grame*dia. Pilihan saya jatuh kepada Jalan Pulang yang ditulis Maria Hartianingsih. Pertimbangan saya hanyalah, beliau merupakan seorang jurnalis senior dari Kompas. Entahlah apa yang ditulis di dalamnya, saya meyakini bahwa tulisan ini akan bermanfaat bagi saya.
Secara keseluruhan, dalam Jalan Pulang ini, Maria menceritakan perjalanan spiritualnya menuju Santiago de Compostela, Spanyol. Dalam proses perjalanan ziarahnya, penulis menemukan hal-hal yang yang sangat berkaitan dengan kehidupan. Kutipan-kutipan essay-nya pun dituliskan dalam buku ini, memberikan kesan penekanan yang mendalam kepada pembaca akan relevannya perjalanan ziarahnya terhadap kehidupan.

Buku ini memberikan kesan bagi saya, bahwa proses berjalan yang terlebih penting dari semuanya. Proses perjalananlah yang menjadikan kita. Seperti tidak ada gunanya manusia berencana dan terus berambisi sampai pada yang kita anggap sebagai kulminasi kehidupan,  jika kita tidak mau melalui jalannya. Saya ialah yang percaya bahwa Jalan telah dipersiapkan. Namun Ia memberi free will untuk memutuskan apakah perlu saya melalui jalan tersebut atau justru membuat jalan sendiri? Kepercayaanlah yang menuntun kita. Pertanyaan tentu akan selalu ada, namun menurut saya ada hal yang sepertinya tidak perlu dipertanyakan, karena mungkin memang tidak perlu kita ketahui atau memang tidak ada jawabannya. Setiap kita memiliki porsinya sendiri, dalam buku ini Maria mengatakan bahwa ada hal yang perlu kita ketahui, ada hal yang belum kita ketahui, namun ada pula hal yag tidak perlu diketahui. Semua memang penuh tanda tanya.

Waktu.
Kesadaran akan waktu yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Apakah saya berjalan terlalu lambat atau bahkan terlalu cepat? Bukan, lebih tepatnya apakah saya berjalan pada tempo yang tepat di kondisi yang tepat. Maria menuliskan bahwa, “Gejala yang kemudian muncul bukan lagi si besar memakan si kecil, tapi terutama si cepat memangsa si lambat, menyebabkan proses marjinalisasi terus melaju.” Hm. Semakin dipikir-pikir, menurut saya sepertinya bukan si cepat, namun si pejalan dengan tempo yang tepatlah yang akan menang. Ya, sepertinya.

Ya, ini semacam lukisan abstrak (?) Mungkin lebih kepada berbagai ekspresi yang saya keluarkan dalam lukisan ini. Entahlah, namun awal saya membuat sampai pada lukisan ini saya foto, semunya berasal dari ekspresi saya pribadi. Sejujurnya tidak begitu baik bagi saya secara visual, namun cukup menggambarkan ekspresi saya dan itu memuaskan bagi saya.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *