2016

Di penghujung tahun ini, rasanya sudah menjadi kewajiban untuk mengambil waktu sejenak lalu berdiam diri dan merenungkan akan apa yang telah terjadi setahun ini. Buat saya, tahun 2016 ini merupakan tahun kejutan. Bahkan setiap bulan yang saya alami, selalu penuh dengan kejutan. Naik dan turun. Ya, inilah proses kehidupan. Seperti emas yang sedang dimurnikan, demikianlah proses yang saya alami (Amen!)
Terkadang rasanya sulit untuk menerima situasi dan keadaan. Namun, di akhir tahun ini, saya setuju dengan anda (ya, anda) memang sepertinya hidup perlu banyak drama. Ini dan itu. Kadang memang merepotkan, dan ada yang sampai terlalu menguras tenaga untuk berpikir. Mencoba menikmati. Menikmati, namun jangan mencintai, oleh karena saya yang percaya bahwa di bawah kolong langit tidak ada yang kekal. Di tahun 2016 ini saya belajar untuk dapat lebih mengenali diri sendiri. Mengenali sejauh apa kemampuan saya, seberapa jauh saya harus berpikir, seberapa jauh saya harus bertindak, seperti apa saya harus merespon, dan sebagainya. Jika tidak, saya sepertinya akan menjadi stranger for myself. Pada akhirnya semakin saya mengenali diri saya sendiri, semakin saya menyadari bahwa daging ini lemah dan sangat terbatas. Oleh karena itu, saya memerlukan pribadi yang tidak terbatas yang nyata bukan khayalan belaka. Penyertaannya yang tiada henti bahkan ajaib yang memampukan saya melewati setiap drama kehidupan ini. Bisakah saya melewati sendiri dengan hanya menuruti pikiran dan kedagingan ini? Tentu saya bisa. Namun damai sejahtera yang ia berikan saat berasamanya sangat nyata dan terlalu berharga untuk saya sia-siakan.
Kini saatnya bagi saya untuk kembali berkomitmen. Berkomitmen kepada cinta mula-mula. Cinta yang sejati. Yesus.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *